KALTIMPOST.ID-Di bawah langit pagi yang cerah di pesisir Mangrove Berbas Pantai, ratusan pelajar berseragam sekolah tampak sibuk memungut sampah plastik yang terselip di antara akar-akar bakau.
Sebagian lainnya menenteng bibit mangrove kecil, siap menanam harapan baru di garis pantai Bontang.
Suasana Minggu (30/11) itu bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan perlawanan sunyi generasi muda terhadap krisis lingkungan.
Aksi tersebut merupakan bagian dari Program GESIT (Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku) yang dilaksanakan oleh SMA IT Daarul Hikmah Bontang, sekaligus menjadi bukti bahwa gerakan peduli lingkungan kini telah meluas hingga ke ruang kelas dan hati para pelajar.
Kegiatan itu tidak hanya berfokus pada aksi bersih-bersih kawasan mangrove, tetapi juga dirangkai dengan penanaman bibit mangrove sebagai langkah konkret menjaga ekosistem pesisir.
Yang istimewa, kegiatan lingkungan itu turut dihadiri langsung oleh Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, bersama Ketua Komite I DPD Andi Sofyan Hasdam.
Kehadiran dua tokoh tersebut menjadi penyemangat sekaligus pengakuan bahwa apa yang dilakukan para pelajar memiliki arti besar bagi kelangsungan lingkungan hidup di Kota Taman.
Dalam sambutannya, Neni memberikan pesan yang menggugah kesadaran seluruh peserta kegiatan. Ia mengingatkan bahwa hubungan manusia dan alam tidak bisa dipisahkan.
“Kita butuh alam, alam tidak butuh kita. Kita harus jaga bumi, maka bumi akan jaga kita. Jadi, jagalah alam dengan penghijauan, jangan lagi buat sampah sembarangan,” kata Neni lantang di hadapan ratusan pelajar dan relawan.
Dia menyoroti kondisi kebersihan laut yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia dengan tegas meminta keterlibatan semua pihak, terutama masyarakat pesisir dan pengunjung kawasan pantai, untuk tidak lagi membuang sampah ke laut.
“Saya minta tidak ada lagi sampah di laut. Setuju ya?” tanyanya yang langsung disambut anggukan dan sorak setuju dari para pelajar.
Lebih lanjut, dia mengajak masyarakat untuk fokus mengelola sampah masing-masing dari rumah tangga.
Menurutnya, perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. “Mari kita terus gaungkan GESIT. Tidak usah mengurusi sampah orang lain, urusi saja sampah kita sendiri dengan 3R yakni reduce, reuse, recycle,” tuturnya.
Andi Sofyan Hasdam mengapresiasi langkah SMA IT Daarul Hikmah yang dinilai berhasil menanamkan semangat kepedulian lingkungan sejak dini.
Program GESIT di Mangrove Berbas Pantai menjadi simbol sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam.
Harapannya, gerakan itu tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjelma menjadi budaya baru warga Bontang budaya peduli, budaya bersih, dan budaya hijau demi masa depan generasi mendatang. (ADV PEMKOT BONTANG/rd)
Editor : Romdani.