KALTIMPOST.ID, BONTANG- Pemilihan Ketua RT di Kelurahan Guntung telah diselesaikan pada 30 November lalu. Saat ini, ketua RT terpilih diwajibkan untuk mengisi komposisi pengurus. Lurah Guntung Denny Febrian mengatakan kelurahan memberikan batasan waktu selama dua pekan untuk tahapan tersebut.
“Sampai minggu keempat Desember kami tunggu,” kata Denny.
Menurutnya kelurahan mempercayakan sepenuhnya terhadap ketua RT terpilih. Tujuannya agar posisi sekretaris dan bendahara bisa terisi dalam membantu tugas ketua RT. “Ketua RT tentunya akan menilai siapa yang bisa diajak kerja secara bersama,” ucapnya.
Namun demikian, kelurahan akan melakukan verifikasi terkait nama yang diajukan. Mengacu terhadap perwali 36/2025 terkait Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) terdapat persyaratan mengenai syarat menjadi pengurus RT.
Mulai dari memiliki latar belakang pendidikan minimal SMA, menjadi penduduk dan tempat tinggal di lingkungan tersebut, berusia minimal 25 tahun, hingga tidak sedarah dengan ketua RT. Denny pun belum bisa menjabarkan berapa yang sudah rampung menyelesaikan komposisi pengurus RT.
“Verifikasi ini sembari berjalan. Ketika pengajuan itu kami terima dan ditemukan yang tidak sesuai persyaratan maka kami minta untuk ada penggantian,” tutur dia.
Diketahui, selepas pemungutan suara, situasi lingkungan terpantau aman, tanpa gejolak berarti. Hingga memasuki masa sanggah, belum satu pun keberatan atau gugatan yang masuk terkait hasil pemilihan.
Jika tidak ada kendala, tahap berikutnya langsung memasuki agenda pelantikan. Pemerintah kelurahan telah menjadwalkan prosesi itu pada 2 Januari 2026. “Pelantikannya tanggal 2 Januari 2026. Sebelumnya akan diterbitkan SK terlebih dahulu,” terangnya.
Dalam pilkaret kali ini, dinamika perubahan cukup terasa. Dari total kepengurusan yang ada, sembilan RT diisi wajah lama. Sementara sembilan lainnya merupakan wajah baru. Komposisi ini diharapkan melahirkan energi baru di tingkat lingkungan.
“Harapannya tentu lebih kompak dan semakin sinergi. Yang kemarin sudah bagus, kita dorong jadi lebih baik lagi,” ungkanya.
Ia mengakui dengan hadirnya pengurus baru, fase adaptasi menjadi penting. Karena itu, kelurahan membuka wacana kegiatan penguatan kebersamaan. “Kita ingin ada ‘bonding’. Bisa bentuknya sarasehan, duduk bareng, ngobrol santai. Di situ sekaligus kita bicarakan program, saling mengenal, dan menyamakan persepsi,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani