KALTIMPOST.ID-Penurunan stunting menjadi perhatian Pemkot Bontang. Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menyatakan optimisme mampu menekan angka stunting hingga 12,5 persen pada tahun 2026. Target tersebut dinilai realistis jika seluruh perangkat daerah bekerja secara terintegrasi dan konsisten sesuai kebijakan yang telah ditetapkan.
Agus Haris membandingkan capaian Bontang dengan daerah lain di Kalimantan Timur, seperti Kutai Kartanegara (Kukar) dan Samarinda. “Kukar, Samarinda, Bontang itu kan urutannya. Tapi kalau kita lihat, mereka di angka 14 sampai 17 persen. Bontang harus di angka 12,5 persen,” kata pejabat yang akrab disapa AH ini.
Ia menjelaskan Kukar meski secara demografi sangat luas tetapi partisipasi kunjungan posyandu sangat tinggi. Hal initidak lepas dari peran aktif kader kesehatan di lapangan. Kondisi ini yang perlu ditiru oleh Bontang.
Baca Juga: Tiru Balikpapan, Pemkot Bontang Siap Rekrut 105 Guru Lewat Skema PJLP
Lebih lanjut, AH mengungkapkan Pemkot Bontang bakal melibatkan dunia usaha dalam upaya percepatan penurunan stunting. Dinas Kesehatan saat ini tengah melakukan pemetaan bayi baru lahir, ibu hamil, dan ibu pascamelahirkan untuk kemudian disinergikan dengan program perusahaan.
“Teman-teman di Dinas Kesehatan sekarang memetakan bayi-bayi baru lahir dan ibu-ibu. Data itu nantinya dikirim ke perusahaan-perusahaan agar bisa ikut berperan,” ucapnya.
Menurut AH, pemerintah berperan sebagai pengendali kebijakan, sementara pelaksanaan teknis menjadi tanggung jawab perangkat daerah dan stakeholder terkait. “Kami ini pengendali kebijakan. Target sudah kami patok, 2026 itu 12,5 persen. Teknisnya dinas-dinas harus bergerak,” tutur dia.
Baca Juga: Wawali Bontang Agus Haris Semprot Disnaker, Data Pekerja Lokal Belum Rampung
Untuk memastikan target tercapai, Pemkot Bontang akan melakukan evaluasi rutin setiap tiga bulan. Rapat koordinasi lintas sektor dijadwalkan secara berkala guna memantau progres di lapangan.
“Kalau tidak dikebut, nanti saya tanya, tiga bulan ini sudah ngapain? Data disetor ke mana? Dukungan provinsi seperti apa? Makanya harus sering rapat,” pungkasnya.
Ditargetkan untuk evaluasi kembali dilaksanakan pada Februari mendatang. Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang, Bahtiar Mabe, mengungkapkan bahwa prevalensi stunting hasil Operasi Timbang Jilid II berada pada angka 15,6 persen di November silam.
Ia menegaskan bahwa penurunan ini merupakan progres positif dari capaian sebelumnya yang berada di angka 17,4 persen. Operasi timbang yang menyasar lebih dari 9.769 balita itu mencatat cakupan 100 persen. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja kolaboratif lintas sektor.
Mabe menjelaskan langkah utama setelah penurunan angka adalah mempertahankan tren. Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dilakukan secara ketat dari segala aspek.
Pengawasan ibu hamil menjadi prioritas. Bahwasanya ibu hamil harus mendapat nutrisi memadai serta pendampingan berkelanjutan. Cakupan layanan gizi menjadi penentu utama pencegahan.
Ia juga menyebut calon pengantin (catin) sebagai kelompok penting. Edukasi dan suplementasi harus diberikan sejak masa pranikah. Mabe menjelaskan bahwa calon pengantin akan memperoleh tablet tambah darah atau penggantinya, yakni Multi Micronutrient Supplement (MMS).
“Remaja putri juga menjadi fokus karena berhubungan langsung dengan risiko anemia dan kualitas kehamilan di masa mendatang,” ungkapnya.
Untuk penanganan stunting yang sudah terdata, Diskes memberikan Makanan Bergizi (MBG). Ia mengatakan bahwa program MBG tahun depan akan diperluas. MBG tidak hanya menyasar anak sekolah tetapi juga balita dan ibu hamil. “Perluasan program ini mampu menekan angka stunting baru,” pungkasnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki