KALTIMPOST.ID, BONTANG - Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Bontang pada akhir tahun lalu menjadi bahan evaluasi penting bagi perkembangan akademik sekolah. Meski belum menjadi indikator kelulusan resmi, pihak sekolah tetap menggunakan hasil TKA untuk memetakan kekuatan dan kelemahan peserta didik.
Kepala SMAN 1 Bontang, Sumariyah, menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA pada November 2025 adalah pengalaman pertama bagi sekolah dan siswa. Karena tes ini tidak diwajibkan, motivasi belajar siswa dinilai belum sepenuhnya terbentuk.
"Ini masih masa transisi. TKA belum menjadi kewajiban, sehingga kami tidak bisa memaksakan anak-anak. Namun, hasilnya tetap kami jadikan bahan introspeksi,” ungkap Sumariyah.
Baca Juga: Guru Honorer Muaro Jambi Jadi Tersangka usai Razia Rambut Siswa, Suami Ditahan Hampir 3 Bulan
Dari data TKA, rata-rata nilai sekolah di beberapa mata pelajaran menunjukkan capaian yang cukup kompetitif. Mata pelajaran Geografi, misalnya, mencatatkan rata-rata nilai 77,75, yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata di Kota Bontang, Kalimantan Timur, bahkan nasional. Mata pelajaran lain seperti Sosiologi, Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Projek Kreatif dan Kewirausahaan juga menunjukkan hasil yang baik.
Sumariyah menambahkan, bahkan di bidang Fisika, ada pelajar yang masuk dalam tiga besar skala nasional. "Ini menjadi kebanggaan bagi kami," ucapnya.
Namun, di sisi lain, beberapa mata pelajaran seperti Matematika, Kimia, dan Bahasa Inggris masih memerlukan perhatian lebih. “Dari sini kami bisa melihat, oh ternyata anak-anak kita lemah di bagian tertentu. Ini menjadi dasar evaluasi kami ke depan,” kata Sumariyah.
Baca Juga: Suporter SMAN 16 Samarinda Siap Pecahkan Suasana DBL 2026 dengan Aksi Solid
Untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, SMAN 1 Bontang berkomitmen memperkuat kompetensi guru. Setiap dua minggu sekali, sekolah ini menggelar Hari Belajar Guru, di mana para pendidik secara bergiliran mempelajari dan mempraktikkan pembuatan media pembelajaran digital, mulai dari presentasi menggunakan Canva, Google Form, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
“Guru juga harus menjadi pemimpin pembelajaran, bukan hanya kepala sekolah. Dunia pendidikan bergerak ke arah digital, dan guru harus siap,” terang Sumariyah.
Tantangan lain yang dihadapi adalah pelaksanaan ujian berbasis digital. Keterbatasan sarana membuat sekolah terpaksa meminjamkan ponsel pribadi siswa saat ujian semester. Hal ini menimbulkan ketimpangan, terutama terkait sistem operasi yang berbeda pada masing-masing perangkat. “Ada plus-minusnya. Anak yang menggunakan perangkat tertentu bisa keluar dari aplikasi, sementara yang lain tidak,” jelasnya.
Baca Juga: Tips Goreng Ikan Anti Meletup dengan Tepung Terigu: Solusi Aman Memasak di Dapur
Menurut Sumariyah, ujian berbasis kertas dengan soal esai masih lebih efektif dalam mengukur kemampuan siswa secara utuh. Sementara ujian digital dengan pilihan ganda dinilai belum sepenuhnya mampu merefleksikan kompetensi akademik siswa.
Mengenai pemanfaatan TKA untuk seleksi masuk perguruan tinggi, Sumariyah mengungkapkan bahwa saat ini TKA baru berfungsi sebagai validator nilai rapor untuk jalur SNBP. “Untuk jalur tes dan mandiri, TKA belum digunakan secara signifikan. Mungkin karena ini masih tahun pertama,” ungkapnya.
Meski demikian, ia berharap bahwa ke depan TKA dapat menjadi standar yang mendorong motivasi belajar siswa, tanpa mengesampingkan penguatan karakter. “Dengan adanya standar, anak-anak punya target. Namun, tentu harus dibarengi dengan kesiapan sistem dan sarana,” pungkas Sumariyah. (*)
Editor : Ery Supriyadi