BONTANG - Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar Bontang terus memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya. Pada tahun anggaran 2026, Dispopar Bontang merencanakan pembangunan bangunan berbentuk rumah tongkonan, ikon budaya Toraja, sebagai bagian dari penguatan destinasi wisata budaya di Kota Taman.
Kepala Dispopar Bontang Eko Mashudi mengatakan pembangunan tersebut bukanlah program baru, melainkan telah masuk dalam perencanaan sejak tahun 2025. Proyek ini tercatat dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) dengan nilai pagu mencapai Rp 949,2 juta, bersumber dari APBD Kota Bontang tahun 2026.
“Pembangunan ini sudah direncanakan sejak tahun lalu. Tujuannya untuk menambah kunjungan wisata serta mengakomodasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata kebudayaan di Kota Bontang,” kata Eko Mashudi saat dikonfirmasi, Rabu (4/2/2026).
Ia menegaskan bangunan yang akan dibangun bukan gedung pertemuan indoor biasa, melainkan Rumah Tongkonan yang tetap mempertahankan bentuk dan karakter arsitektur tradisional. Selain bangunan utama, proyek ini juga mencakup penambahan sarana penunjang lainnya.
“Konsepnya rumah Tongkonan, bukan sekadar gedung. Jadi nilai budayanya tetap kuat. Lokasinya di Kanaan,” ucapnya.
Terkait ketersediaan lahan, Eko memastikan bahwa area yang disiapkan masih mencukupi untuk pembangunan tersebut. Menurutnya, perencanaan teknis telah mempertimbangkan kondisi eksisting lokasi sehingga tidak akan menimbulkan kendala di lapangan.
“Untuk lahan masih cukup dan sesuai dengan perencanaan yang sudah disusun,” tutur dia.
Berdasarkan data SIRUP, proyek ini masuk dalam kategori pekerjaan konstruksi dengan volume pekerjaan seluas 120 meter persegi. Bangunan dirancang sebagai bangunan standar dengan luas total di bawah 500 meter persegi. Proses pengadaan akan dilakukan melalui metode tender, dengan target pemanfaatan barang dan jasa pada September 2026.
Pembangunan Rumah Tongkonan ini diharapkan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan, sekaligus ruang representasi budaya yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan pariwisata.
“Harapannya, ini bisa menjadi ikon tambahan wisata budaya di Bontang dan mendukung visi kota sebagai daerah yang ramah wisata serta berkarakter,” pungkas Eko Mashudi.
Editor : Muhammad Ridhuan