BONTANG - Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bontang mencatat satu kasus demam berdarah dengue (DBD) yang menyebabkan seorang anak laki-laki berinisial HS (7) meninggal dunia pada 17 Februari lalu. Korban diketahui merupakan siswa kelas 1 SD dan berdomisili di Kelurahan Gunung Elai.
Penanggung Jawab DBD Diskes Bontang, Siti Rahimah, mengatakan korban mulai mengalami demam sejak Kamis (12/2/2026). Namun, baru mendapatkan penanganan di rumah sakit pada Sabtu atau hari ketiga demam.
“Anak ini mulai demam hari Kamis dan mengakses pelayanan kesehatan di rumah sakit pada hari Sabtu, berarti sudah masuk hari ketiga. Sebelumnya sempat diberikan obat penurun panas oleh orang tuanya,” kata Siti Rahimah, Senin (2/3/2026).
Ia mengungkapkan, keterlambatan membawa korban ke fasilitas kesehatan juga dipengaruhi kondisi banjir yang melanda Bontang pada saat itu. Akibatnya, korban tidak sempat dibawa ke fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Menurut Siti, saat pertama kali tiba di rumah sakit, kondisi klinis korban sebenarnya masih cukup baik dengan jumlah trombosit sekitar 170 ribu. Namun, secara tiba-tiba terjadi penurunan trombosit yang signifikan. Korban bahkan sempat mendapatkan transfusi darah sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
“Kami masih meminta kronologis lengkap dari pihak rumah sakit terkait penurunan trombosit yang terjadi secara cepat,” ucapnya.
Dari hasil penyelidikan epidemiologi (PE) yang dilakukan tim puskesmas, ditemukan banyak tempat perindukan nyamuk di sekitar rumah korban. Salah satunya berasal dari tumpukan sampah di bank sampah yang tidak terangkut selama berminggu-minggu. Tutup botol dan gelas plastik yang terbuka menjadi wadah penampungan air hujan dan berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk Aedes aegypti.
“Di dalam rumah korban sebenarnya bersih dan tidak ditemukan jentik. Namun di bagian depan rumah terdapat ember-ember penampung air hujan untuk menyiram bunga,” tutur dia.
Diskes Bontang telah melakukan fogging dua siklus di lingkungan tempat tinggal korban serta di sekolah korban yang berada di wilayah Kelurahan Gunung Elai. Selain itu, pemeriksaan darah terhadap keluarga inti juga dilakukan. Hasilnya, ditemukan antibodi virus dengue pada ibu dan kakak korban melalui rapid diagnostic test (RDT), yang menandakan pernah terpapar virus dengue.
Meski demikian, kondisi keluarga saat ini dipastikan dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan gejala demam. Siti Rahimah mengingatkan masyarakat Bontang untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada periode Januari hingga Maret yang masuk dalam kalender kewaspadaan penyakit DBD. Perubahan musim atau pancaroba dinilai meningkatkan risiko penularan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Jangan hanya bersih-bersih rumput saat Jumat Bersih, tapi fokus pada kaleng bekas, batok kelapa, ember, dan wadah yang bisa menampung air hujan,” terangnya.
Ia juga meminta warga tidak menampung air hujan dalam wadah terbuka serta segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam selama dua hari berturut-turut.
Dengan meningkatnya potensi kasus DBD di musim pancaroba, peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama menekan angka penyebaran. Diskes Bontang memastikan pemantauan dan langkah antisipatif terus dilakukan guna mencegah kasus serupa terulang kembali. (*)
Editor : Sukri Sikki