BONTANG - Pemkot Bontang menyiapkan langkah antisipasi penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan meningkatkan pengawasan di sejumlah wilayah yang dianggap rawan. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan penanganan DBD menjadi salah satu fokus pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Masalah demam berdarah sudah kita bahas dalam rapat. Penanganannya harus kita fokuskan di titik-titik yang rawan,” kata Neni.
Menurutnya, upaya pencegahan akan dilakukan melalui kegiatan fogging atau pengasapan di kawasan yang teridentifikasi sebagai lokasi penyebaran nyamuk Aedes aegypti.
Selain itu, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan. Langkah pemberantasan sarang nyamuk dinilai menjadi salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyebaran DBD. “Kalau ada titik rumah yang rawan demam berdarah, kita akan lakukan fogging fokus,” ucapnya.
Pemerintah juga meminta warga untuk menerapkan gerakan 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang dapat menampung air.
Menurut Neni, peran masyarakat sangat penting dalam mencegah penyebaran penyakit tersebut. Tanpa partisipasi masyarakat, upaya pemerintah akan sulit berjalan optimal. “Ini harus kita lakukan bersama-sama,” tutur dia.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi cuaca dan lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan nyamuk penyebab DBD. Karena itu, kewaspadaan perlu terus ditingkatkan terutama pada musim hujan.
Pemkot Bontang melalui dinas terkait juga akan terus memantau perkembangan kasus DBD di lapangan. Langkah ini dilakukan agar penanganan dapat dilakukan secara cepat apabila terjadi peningkatan kasus. “Kesehatan masyarakat harus kita jaga bersama,” terangnya.
Diketahui pada bulan lalu tercatat 19 kasus DBD Bontang. Satu kasus berujung kepada kematian. Korban merupakan warga RT 13, Kelurahan Gunung Elai yang berusia 7 tahun. Berdasarkan data kasus DBD terbanyak menyasar Kelurahan Tanjung Laut Indah dengan lima kasus. (*)
Editor : Sukri Sikki