Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kapasitas Sungai Bontang Baru 70%, Risiko Banjir Masih Mengintai

Adhiel kundhara • Rabu, 1 April 2026 | 09:04 WIB
Kapasitas daya tampung DAS Bontang masih 70 persen akibat belum seluruhnya dilakukan penurapan dengan tinggi yang sesuai. (ADIEL KUNDHARA/KALTIM POST)
Kapasitas daya tampung DAS Bontang masih 70 persen akibat belum seluruhnya dilakukan penurapan dengan tinggi yang sesuai. (ADIEL KUNDHARA/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, BONTANG – Kapasitas sungai di Kota Bontang saat ini baru mencapai sekitar 70 persen dari kemampuan maksimalnya. Kondisi ini membuat risiko luapan air tetap tinggi, terutama saat hujan deras di wilayah hulu.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bontang, Syahruddin, menjelaskan bahwa evaluasi menunjukkan intervensi yang dilakukan sejauh ini baru mengoptimalkan sebagian kapasitas sungai.

“Intervensi yang kita lakukan baru sekitar 70 persen. Artinya masih ada potensi limpasan ketika debit air meningkat,” ujar Syahruddin.

Baca Juga: Banjir Bontang Tak Kunjung Tuntas, Solusi Kunci Ada di Hulu?

Faktor utama yang memengaruhi kondisi ini antara lain turap yang belum merata dan tingginya sedimentasi di badan sungai. Material dari hulu terus terbawa ke hilir, memperparah pendangkalan sungai dan mengurangi volume air yang bisa ditampung.

“Masih ada bagian yang rendah, belum diturap optimal. Sedimentasi tinggi karena material dari hulu terus terbawa,” jelasnya.

Perubahan fungsi lahan di hulu juga berkontribusi pada masalah ini. Lahan resapan yang berkurang membuat air langsung mengalir ke sungai tanpa tertahan. Kapasitas DAS Bontang diperkirakan 1,5 juta meter kubik, sementara volume air kiriman saat kondisi ekstrem bisa lebih dari 2 juta meter kubik.

“Walaupun kapasitas dimaksimalkan, tetap ada selisih. Air yang datang lebih besar dari kapasitas tampung,” terang Syahruddin.

Selain itu, keberadaan jembatan dengan struktur kaki di sungai juga menghambat aliran. Sampah yang tersangkut membuat air tertahan dan meluap, menjadi salah satu penyebab banjir di beberapa titik.

Untuk mengurangi risiko, Pemkot Bontang terus melakukan normalisasi sungai dan meningkatkan infrastruktur pengendali banjir. Namun, Syahruddin menegaskan, upaya hilir saja tidak cukup tanpa pengendalian di hulu.

Baca Juga: Data BLT Bontang Berubah Drastis, Penerima Menyusut usai Verifikasi Ketat

“Kalau hanya di hilir, tidak akan cukup. Harus ada pengendalian dari atas,” ujarnya.

Meski dibandingkan dengan 2025 luas genangan tahun ini lebih kecil, potensi banjir masih bergantung pada curah hujan. Hingga awal 2026, luasan genangan tercatat 100,44 hektare, lebih rendah dari 126,31 hektare tahun lalu.

Wilayah Api-Api menjadi yang paling terdampak, dengan luasan 46 hektare. Berikutnya Guntung 23,58 hektare, Satimpo 5,98 hektare, Bontang Kuala 0,24 hektare, Gunung Elai 9,03 hektare, Kanaan 4,85 hektare, dan Gunung Telihan 10,76 hektare.

“Banyak turap yang masih rendah, sehingga air melimpas saat debit tinggi. Itu fokus kami,” pungkas Syahruddin. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#kapasitas sungai #infrastruktur banjir #turap sungai #Banjir Bontang #DAS Bontang