KALTIMPOST.ID, BONTANG - Sarana pembelajaran di SMP Negeri 1 Bontang kini telah terpenuhi setelah Pemerintah Kota Bontang merampungkan pembangunan ruang kelas baru (RKB) pada akhir tahun lalu.
Dengan tambahan tersebut, sekolah kini memiliki total 27 ruang kelas. Namun, dua di antaranya akan difungsikan sebagai ruang multimedia.
Kepala SMP Negeri 1 Bontang, Riyanto, menjelaskan bahwa jumlah tersebut sudah mencukupi kebutuhan rombongan belajar (rombel) yang ada, yakni sebanyak 25 rombel.
“Ini sudah memenuhi jumlah rombel yang ada, yakni 25,” ujarnya.
Pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran ini, SMP Negeri 1 Bontang akan membuka sembilan rombel untuk siswa baru. Jumlah tersebut disesuaikan dengan lulusan tahun sebelumnya.
“Nantinya siswa baru ada sembilan kelas, sementara kelas VIII dan IX masing-masing delapan rombel,” jelasnya.
Dari sisi tenaga pendidik, ia memastikan tidak ada kekurangan guru. Bahkan, SMP Negeri 1 Bontang juga menjalin kemitraan dengan SMP Monamas sebagai bagian dari program pemerintah terkait pembebasan biaya sekolah swasta.
“Jika ada kekurangan guru, bisa dibantu dari SMP Monamas. Begitu juga sebaliknya, guru kami bisa diperbantukan ke sekolah mitra,” tambahnya.
Baca Juga: Tanggal 10 April Hari Apa Saja? Ada WFH Day, Hari HIV/AIDS Remaja hingga Perayaan Keagamaan Dunia
Sekolah juga menetapkan kapasitas ideal sebanyak 33 siswa per rombel, sehingga total daya tampung mencapai 297 siswa. Ketentuan ini disesuaikan dengan ukuran ruang kelas 7x9 meter.
“Kalau terlalu banyak, tentu tidak ideal,” ujarnya.
Diketahui, Pemerintah Kota Bontang mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,4 miliar untuk lanjutan pembangunan RKB pada tahun lalu. Selain ruang kelas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga melakukan pemasangan paving block di area halaman sekolah.
Bangunan baru tersebut terdiri dari 12 ruang kelas yang dibangun dalam tiga lantai, serta dilengkapi toilet di setiap lantai.
Sebelumnya, SMP Negeri 1 Bontang menerapkan sistem dua shift akibat keterbatasan ruang belajar. Dengan selesainya pembangunan RKB, sistem tersebut kini tidak lagi diberlakukan.
“Pembelajaran dua shift memang tidak efektif,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi