KALTIMPOST.ID, BONTANG - Pematangan rencana pembukaan rute pelayaran baru yang menghubungkan Bontang dengan Mamuju, Sulawesi Barat, terus dilakukan Pemkot Bontang. Rute ini digadang-gadang menjadi solusi distribusi logistik.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris mengatakan, pembahasan teknis bersama PT ASDP Indonesia Ferry telah dilakukan. Secara prinsip, perusahaan pelat merah tersebut menyatakan dukungan terhadap pembukaan rute tersebut.
“ASDP pada prinsipnya sangat setuju. Tinggal mereka menghitung ulang kajian yang sudah pernah dibuat sebelumnya, terutama terkait beban biaya yang timbul,” kata pejabat yang akrab disapa AH ini.
Baca Juga: Kasus Suspek Campak Bontang Tembus 169, Loktuan Jadi Zona Merah
Menurutnya, proses penghitungan ulang tersebut ditargetkan rampung dalam bulan ini. Jika perhitungan telah selesai dan dinyatakan layak, maka tahap berikutnya adalah realisasi operasional.
Rute ini nantinya akan dilayani kapal jenis roll-on/roll-off (roro) yang mampu mengangkut kendaraan sekaligus logistik dalam jumlah besar. Kapal tersebut diperkirakan memiliki kapasitas antara 300 hingga 500 penumpang.
“Kapalnya roro, jadi bisa angkut logistik seperti beras, kelapa, dan kebutuhan lainnya dari Sulawesi. Ini penting untuk menjaga pasokan di Bontang agar tetap stabil dan tidak memicu inflasi,” ucapnya.
Meski demikian, untuk jadwal pelayaran masih belum dibahas secara rinci. Namun, opsi awal yang mengemuka adalah frekuensi dua kali pelayaran dalam sepekan.
Pemkot Bontang juga masih memprioritaskan kerja sama dengan BUMN, dalam hal ini ASDP, sebelum membuka peluang bagi pihak swasta.
“Kita fokus dulu dengan BUMN karena mereka sudah paham skema keuangan dan operasional,” tutur dia.
Terkait kesiapan infrastruktur, khususnya di Pelabuhan Loktuan, Agus Haris menyebut masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, termasuk penyesuaian fasilitas sandar kapal roro.
“Tim dari ASDP sudah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi pelabuhan. Tinggal dihitung saja kebutuhan penyesuaiannya,” terangnya.
Sementara itu, untuk rencana pembukaan rute lain seperti Bontang–Surabaya, masih dinilai belum memungkinkan karena membutuhkan subsidi besar, mencapai Rp 22 miliar.
“Masih berat untuk kita. Jadi fokus dulu ke rute Bontang–Mamuju,” pungkasnya. (*)
Editor : Duito Susanto