Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

SPMB 2026 Bontang Gunakan Sistem Offline di Pesisir, Daya Tampung Lebih Besar

Adhiel kundhara • Kamis, 16 April 2026 | 08:40 WIB
Pendaftaran murid baru di SD 016 Bontang Selatan yang terletak di Tihi-Tihi tidak memakai skema online. (ADIEL KUNDHARA/KALTIM POST)
Pendaftaran murid baru di SD 016 Bontang Selatan yang terletak di Tihi-Tihi tidak memakai skema online. (ADIEL KUNDHARA/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang memastikan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 tetap mengakomodasi pendaftaran secara luring (offline) di sejumlah wilayah pesisir dan terpencil.

Kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi di lapangan, terutama terkait jumlah daya tampung sekolah yang justru lebih besar dibandingkan jumlah calon peserta didik.

Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin, menjelaskan bahwa penerapan sistem daring tidak efektif untuk wilayah dengan jumlah pendaftar yang terbatas.

Baca Juga: Dampak Gejolak Global, Harga Bahan Baku Naik, UMKM Balikpapan Tertekan dan Daya Beli Terancam Melemah

“Di wilayah pesisir seperti Pulau Gusung dan Tihi-Tihi, daya tampung sekolah lebih besar dari jumlah peminat. Jadi tidak efektif jika dipaksakan menggunakan sistem online,” ujarnya.

Ia menambahkan, sekolah di wilayah tersebut selama ini telah menerapkan pendaftaran tatap muka. Pola ini dinilai lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Selain itu, penggunaan sistem daring juga membutuhkan anggaran tambahan yang dinilai tidak sebanding dengan jumlah peserta didik.

“Online itu membutuhkan biaya. Sementara jumlah murid sedikit, jadi tidak ada urgensinya,” jelasnya.

Penerapan skema luring tidak hanya berlaku di Tihi-Tihi, tetapi juga mencakup wilayah Bontang Lestari, Selangan, hingga Gusung.

Untuk wilayah seperti Bontang Lestari yang berada di perbatasan dengan Kutai Kartanegara, jumlah lulusan relatif terbatas. Dalam kondisi tersebut, sistem offline dinilai lebih relevan.

“Di sana lulusan hanya dari dua sekolah, jumlahnya sekitar 60 siswa. Jadi memang tidak perlu sistem online,” tambahnya.

Berdasarkan data Disdikbud, terdapat tujuh sekolah yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan SPMB tahun ini.

Baca Juga: Subsidi Haji Rp1,77 Triliun Disiapkan, PPU Masih Tunggu Kejelasan

SDN 011 Bontang Utara di Pulau Gusung memiliki satu rombongan belajar dengan kapasitas 28 siswa. Sementara SDN 007 Bontang Selatan menyiapkan dua rombongan belajar dengan total daya tampung 60 siswa.

Kemudian, SDN 004 Bontang Selatan juga membuka dua rombongan belajar dengan kapasitas 64 siswa. SDN 014 dan SDN 015 Bontang Selatan masing-masing menyediakan satu rombongan belajar dengan daya tampung 28 siswa.

Adapun SDN 016 Bontang Selatan di Tihi-Tihi turut membuka satu rombongan belajar dengan kapasitas 28 siswa.

Di tingkat SMP, SMPN 6 Bontang menjadi salah satu sekolah dengan daya tampung terbesar, yakni mencapai 108 siswa yang terbagi dalam tiga rombongan belajar.

Saparuddin menegaskan, seluruh data daya tampung tersebut telah disusun berdasarkan petunjuk teknis SPMB 2026. Penyesuaian dilakukan agar distribusi siswa tetap merata dan tidak terjadi penumpukan di sekolah tertentu.

“Prinsipnya menyesuaikan juknis. Daya tampung sudah dihitung berdasarkan kebutuhan dan kondisi riil di lapangan,” katanya.

Melalui skema ini, Disdikbud berharap proses penerimaan murid baru berjalan lebih efektif dan efisien, serta tetap menjamin pemerataan akses pendidikan, termasuk bagi masyarakat di wilayah pesisir dan terpencil.

Masyarakat pun diimbau memahami mekanisme pendaftaran yang berlaku di masing-masing wilayah, baik yang menggunakan sistem daring maupun luring.

“Yang penting orang tua dan calon siswa memahami jalurnya. Kami pastikan semua tetap terlayani,” pungkasnya. (*)

Editor : Ery Supriyadi
#daya tampung siswa #sekolah pesisir #pendaftaran offline #SPMB 2026 #disdikbud bontang