KALTIMPOST.ID, BONTANG - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Bontang memastikan seluruh lembaga penitipan anak atau daycare terus dalam pengawasan.
Hingga data terakhir, tercatat sebanyak 17 Taman Penitipan Anak (TPA) tersebar di tiga kecamatan di Kota Bontang. Kepala DP3AKB Bontang, Eddy Forestwanto, mengatakan pihaknya secara rutin melakukan monitoring untuk memastikan standar pelayanan ramah anak terpenuhi.
Pengawasan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kelayakan fasilitas hingga kompetensi pengasuh. “Yang kami cek itu mulai dari tempatnya, apakah sudah ramah anak atau belum. Kemudian pengasuhnya, apakah sudah mengikuti pelatihan dan memiliki standar yang sesuai,” kata Eddy.
Baca Juga: Penanganan Angka Pengangguran Terbaik, Pemkot Bontang Diguyur Bonus Rp3 Miliar
Menurutnya, hingga saat ini pihaknya belum mengeluarkan rekomendasi baru untuk pendirian daycare. Hal ini karena adanya keterkaitan kewenangan dengan sektor pendidikan, sehingga perlu koordinasi lintas instansi, khususnya dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).
“Kami perlu koordinasi karena daycare ini juga bersinggungan dengan dunia pendidikan,” ucapnya. Ia menjelaskan, pengawasan terhadap daycare semakin diperkuat menyusul munculnya kasus di daerah lain yang menjadi perhatian nasional.
Meski demikian, DP3AKB Bontang memilih tidak bersikap reaktif berlebihan, melainkan tetap fokus pada pembinaan dan komunikasi yang telah berjalan. Selama ini, lanjut Eddy, komunikasi dengan pengelola dan pengasuh daycare berjalan cukup baik.
Bahkan, para pengelola disebut memiliki komitmen tinggi untuk mewujudkan konsep Taman Asuh Ramah Anak sebagai standar layanan. “Kami tekankan bahwa daycare adalah penyambung kasih sayang orang tua. Pengasuh itu pengganti sementara orang tua, jadi harus benar-benar memahami perannya,” tutur dia.
Baca Juga: Perebutan Bursa Kursi Panas KONI Kubar Dimulai, Syarat Dukungan 20+1 Cabor Jadi Penentu
Selain pengawasan, DP3AKB juga aktif melakukan pembinaan melalui pelatihan bagi para pengasuh. Program tersebut turut melibatkan pihak lain, termasuk program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) yang bertujuan meningkatkan kompetensi serta sertifikasi pengasuh.
“Sudah beberapa kali kami lakukan pelatihan agar pengasuh memiliki standar yang jelas,” terangnya. Dalam waktu dekat, DP3AKB juga berencana melakukan peninjauan lapangan kembali ke seluruh daycare.
Namun, saat ini pihaknya masih fokus pada proses penilaian Kota Layak Anak (KLA) yang sedang berlangsung. “Kami akan turun lagi setelah penilaian KLA selesai. Memang kami juga terbatas personel, hanya tujuh orang di bidang ini, jadi harus membagi prioritas,” sebutnya.
Meski begitu, Eddy memastikan hingga saat ini belum ada keluhan dari masyarakat terkait layanan daycare di Bontang. Ia berharap kondisi tersebut dapat terus dipertahankan.
“Alhamdulillah sejauh ini belum ada keluhan. Kami berharap semua daycare tetap menjaga kualitas layanan, karena ini menyangkut masa depan anak-anak,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo