Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kenaikan Material dan BBM Berpotensi Picu Penyesuaian Nilai Kontrak Proyek Polder Tanjung Laut

Adhiel kundhara • Minggu, 10 Mei 2026 | 17:10 WIB
PERUBAHAN: Nilai kontrak terhadap proyek yang belum tertandatangani dipastikan bisa mengalami penyesuaian besaran seiring kenaikan harga material dan BBM. ADIEL KUNDHARA/KP
PERUBAHAN: Nilai kontrak terhadap proyek yang belum tertandatangani dipastikan bisa mengalami penyesuaian besaran seiring kenaikan harga material dan BBM. ADIEL KUNDHARA/KP

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Kenaikan harga material konstruksi dan bahan bakar industri mulai berdampak pada proyek pembangunan infrastruktur di Bontang. Pemkot Bontang membuka kemungkinan penyesuaian nilai kontrak untuk paket pekerjaan yang belum memasuki tahap kontrak resmi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang Much Cholis Edi Prabowo mengatakan, beberapa komponen material bangunan mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu yang paling terasa ialah besi dan kebutuhan operasional alat berat.

“Ada beberapa material yang naik. Besi sekarang juga mulai naik,” kata pejabat yang akrab disapa Bowo ini. Menurut Bowo, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan proyek pembangunan Polder Tanjung Laut yang saat ini masih memasuki tahapan pengadaan.

Baca Juga: Proyek Polder Tanjung Laut Bontang Mulai Tayang di E-Katalog, Target Rampung Desember

Ia menjelaskan, untuk proyek yang belum memasuki tahap kontrak masih dimungkinkan adanya penyesuaian nilai sesuai perkembangan harga pasar. Namun berbeda dengan proyek yang sudah terikat kontrak kerja.

“Kalau yang belum kontrak masih bisa ada penyesuaian harga. Tapi kalau sudah kontrak tentu menjadi risiko penyedia atau kontraktor,” ucpanya.

Selain kenaikan harga material, peningkatan biaya operasional alat berat juga dipicu naiknya harga bahan bakar industri seperti Dexlite. Kondisi tersebut otomatis berdampak pada biaya sewa alat dan mobilisasi peralatan konstruksi.

“Kalau Dexlite naik otomatis biaya alat berat ikut naik juga. Sewa alat pasti berpengaruh,” tutur dia. Bowo menilai kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus diantisipasi seluruh pihak, terutama kontraktor pelaksana proyek strategis daerah.

Baca Juga: LPADKT Tegas Dukung Pembangunan IKN, Berharap Warga Lokal yang Punya Kemampuan Diberdayakan

Sebab fluktuasi harga material dan bahan bakar berpotensi memengaruhi perhitungan biaya pekerjaan di lapangan. Meski demikian, Pemkot Bontang memastikan proyek pembangunan Polder Tanjung Laut tetap berjalan sesuai rencana.

Saat ini proses pengadaan proyek masih berlangsung dan dijadwalkan mulai tayang di e-katalog pada Senin mendatang. Pemerintah menargetkan kontrak pekerjaan dapat diteken pada Mei 2026 dengan durasi pengerjaan sekitar tujuh bulan.

Artinya pembangunan polder ditargetkan selesai pada akhir tahun. Proyek Polder Tanjung Laut sendiri menjadi salah satu program prioritas pemerintah dalam pengendalian banjir di Kota Bontang. Tahun ini, anggaran pembangunan yang dikucurkan mencapai Rp42 miliar termasuk pengawasan teknis.

Polder tersebut nantinya dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti rumah pompa, rumah genset, pintu air, gorong-gorong boks, hingga area taman dan lampu penerangan jalan.

Bowo berharap kondisi kenaikan harga material dan bahan bakar tidak menghambat proses pembangunan. Pemerintah optimistis proyek strategis tersebut tetap bisa diselesaikan sesuai target. “Ini memang tantangan, tapi mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar sampai selesai,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#proyek banjir Bontang #proyek Bontang #kenaikan material konstruksi #kontrak proyek Bontang #polder tanjung laut