KALTIMPOST.ID-Kontribusi besar Kota Bontang terhadap devisa negara lewat sektor industri pupuk dan ekspor urea dinilai belum sebanding dengan kepastian dukungan fiskal dari pemerintah pusat. Di tengah potensi ekspor urea yang diproyeksikan mencapai 1,5 juta ton, muncul harapan agar Transfer ke Daerah (TKD) untuk Kota Bontang tidak mengalami pemangkasan. Hal itu disampaikan Wali Kota Neni Moerniaeni saat menyoroti peran strategis industri Bontang bagi perekonomian nasional.
Dalam keterangannya, Neni menyebut keberhasilan industri di Bontang tidak lepas dari peran besar perusahaan strategis nasional seperti Pupuk Kaltim yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Menurutnya, keberadaan industri tersebut tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara dari sektor ekspor.
“Pupuk Kaltim mendapatkan peluang besar. Kami berharap TKD Bontang tidak diturunkan karena kami juga ingin terus menyumbang devisa yang luar biasa untuk negara,” kata Neni. Ia menilai, Kota Bontang layak mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah pusat. Terlebih, daerah tersebut selama ini menjadi salah satu kawasan industri strategis di Kalimantan Timur yang menopang kebutuhan pupuk nasional hingga pasar ekspor.
Neni juga menyinggung besarnya potensi ekspor urea dari Bontang yang diperkirakan mencapai 1,5 juta ton. Jumlah tersebut dinilai menjadi bukti bahwa industri di Kota Taman memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, khususnya di sektor industri kimia dan pupuk. “Ekspor urea ini merupakan semangat Kota Bontang untuk bagaimana industri di Indonesia bisa terus maju,” ucapnya.
Baca Juga: Tegas! Wali Kota Bontang Tolak Legalisasi THM dan Miras, Sebut Judi Juga Bisa Hasilkan PAD
Selain itu, Neni meminta perhatian khusus kepada Kementerian Keuangan terkait kebijakan transfer ke daerah. Ia menilai kepastian mengenai Dana Bagi Hasil (DBH) masih menjadi persoalan yang perlu diperjelas pemerintah pusat. Di tengah kontribusi besar yang diberikan Bontang, menurutnya, daerah tetap membutuhkan dukungan fiskal agar pembangunan berjalan optimal.
“Kami meminta kepada Kementerian Keuangan agar TKD Bontang tidak dipotong. Karena sampai sekarang DBH kita juga belum jelas, sementara kita banyak memberikan devisa untuk negara,” tutur dia. Sebelumnya, PT Pupuk Kalimantan Timur nasional (Pupuk Kaltim) kembali mencatat sejarah baru dalam industri pupuk.
Melalui skema kerja sama Government to Government (G2G), perusahaan resmi melepas ekspor perdana pupuk urea ke Australia sebanyak 47.250 metrik ton menggunakan kapal MV Medi Luna dari Dermaga Pelabuhan Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, Kamis (14/5/2026).
Ekspor perdana tersebut menjadi bagian dari penguatan kerja sama strategis Indonesia dan Australia pada sektor ketahanan pangan regional. Pemerintah menargetkan total pengiriman mencapai 250 ribu ton hingga Desember 2026, bahkan berpotensi meningkat menjadi 500 ribu ton.
Baca Juga: Soroti Penerangan Jalan MT Haryono, DPRD Bontang Minta Lampu Diganti
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengapresiasi langkah Pupuk Kaltim dan Pupuk Indonesia yang dinilai berhasil membuka peluang pasar internasional di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu. “Pupuk Kaltim mencetak sejarah karena mulai mengekspor pupuk ke Australia. Awalnya direncanakan 250 ribu ton, tapi akan kita tingkatkan menjadi 500 ribu ton,” kata Amran.
Menurut dia, peningkatan ekspor tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan dunia terhadap industri pupuk Indonesia. Bahkan sejumlah negara lain mulai menyampaikan minat untuk memperoleh pasokan pupuk dari Indonesia. “Ada India, Filipina, Brasil, Bangladesh dan beberapa negara lain yang juga berminat. Ini yang kita syukuri dan banggakan,” ucapnya.
Amran menegaskan ekspor dilakukan setelah kebutuhan pupuk nasional dipastikan aman. Pemerintah, kata dia, tetap memprioritaskan petani dalam negeri sebelum membuka pasar ekspor. “Kita mendahului petani Indonesia dulu. Kalau kebutuhan dalam negeri sudah cukup, baru kita ekspor,” tutur dia. Ia juga menyebut keberhasilan menjaga stok pupuk nasional menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia mampu melakukan ekspor di tengah ancaman krisis pangan global. “Sekarang stok pupuk kita mencapai 5,3 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka,” pungkasnya. (68)
Editor : Muhammad Rizki