Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Neni Moerniaeni Minta Camat hingga RT di Bontang Petakan Keluarga Berisiko Stunting

Adhiel kundhara • Kamis, 21 Mei 2026 | 16:50 WIB
RAGAM INTERVENSI GIZI: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat berdiskusi mendalam dengan jajaran lurah dan camat se-Kota Bontang mengenai pemetaan penanganan stunting. (ADHIEL KUNDARA/KP)
RAGAM INTERVENSI GIZI: Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat berdiskusi mendalam dengan jajaran lurah dan camat se-Kota Bontang mengenai pemetaan penanganan stunting. (ADHIEL KUNDHARA/KP)

 

KALTIMPOST.ID-Perang terhadap stunting tidak bisa hanya menjadi slogan seremonial. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni dalam sambutannya saat pelantikan pejabat tinggi pratama dan pengukuhan kepala sekolah di lingkungan Pemkot Bontang, meminta seluruh jajaran mulai dari kepala dinas, camat, lurah hingga RT bergerak masif menekan angka stunting hingga ke tingkat keluarga.

Menurut Neni, persoalan stunting merupakan ancaman nyata bagi masa depan generasi Kota Bontang. Karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah bergerak cepat melalui intervensi terpadu yang melibatkan lintas sektor. “Yang paling penting adalah jangan sampai kita menciptakan stunting baru. Program harus berjalan terukur dan progresnya harus terlihat,” kata Neni, Kamis (21/5/2026).

Ia secara khusus menginstruksikan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) yang baru yakni drg Toetoek Pribadi Ekowati untuk memastikan agenda timbang serentak balita pada Juni 2026 berjalan optimal agar pemerintah memiliki data valid dalam menentukan langkah penanganan.

Neni menyebut, pemkot juga akan menyelaraskan program daerah dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat. Menurutnya, program tersebut sangat membantu upaya percepatan penurunan stunting di daerah. Selain itu, Pemkot Bontang juga akan menjalankan program pemberian telur kepada anak stunting selama 53 hari sebagai bentuk intervensi gizi tambahan.

“Minimal satu anak stunting diberikan satu telur selama 53 hari, lalu kita evaluasi bersama hasilnya,” ucapnya. Tidak hanya itu, Neni juga meminta camat, lurah, kader hingga RT melakukan pemetaan langsung terhadap keluarga berisiko stunting di wilayah masing-masing. Ia menilai pendekatan berbasis wilayah akan lebih efektif karena setiap RT mengetahui kondisi warganya secara detail.

“Kalau satu RT ada dua anak stunting, ayo selesaikan bersama. Kota kecil seperti Bontang ini harusnya bisa cepat ditangani kalau semua bergerak,” tutur dia. Neni optimistis angka stunting bisa ditekan secara signifikan apabila seluruh perangkat daerah bekerja secara serius dan terukur. Bahkan ia menargetkan capaian penurunan stunting Kota Bontang bisa melampaui target nasional.

“Kalau pemerintah pusat target 17 persen, kenapa kita tidak bisa lebih rendah lagi. Saya yakin kalau semua bergerak bersama, hasilnya akan terlihat,” pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#bontang #Stunting Kota Bontang #stunting #Neni Moerniaeni