BONTANG- Bau khas kandang sapi menyambut siapa saja yang datang ke kawasan Jalan Pupuk Raya, Bontang. Di tengah deretan sapi kurban berukuran jumbo, berdiri sosok perempuan sederhana bernama Siti Nur Rohmah. Siapa sangka, usaha peternakan yang kini mampu menjual ratusan sapi itu bermula dari dua ekor sapi bagi hasil dan pekerjaan mencuci dan setrika.
Perempuan asal Blora, Jawa Tengah itu mengaku merintis usaha peternakan sapi bersama suaminya sejak 2004. Jauh sebelum memiliki kandang besar seperti sekarang, kehidupan mereka di Bontang penuh perjuangan.
“Pertama datang ke Bontang tahun 2003, suami kerja proyek. Saya sempat nganggur tiga bulan lalu kerja nyuci gosok,” kata saat ditemui di kandangnya," Senin (25/5/2026).
Di sela pekerjaan itu, sang suami mulai mencari barang rongsokan. Hingga akhirnya ada tawaran memelihara dua ekor sapi sistem bagi hasil dari seorang pegawai perusahaan.
“Waktu itu sistemnya 60-40. Saya yang 60 persen karena merawat sapi,” ucapnya.
Harga sapi saat itu masih sekitar Rp3,5 juta per ekor. Setelah dipelihara hampir setahun, harga sapi melonjak hingga Rp9 juta. Keuntungan itu tidak dipakai untuk kebutuhan konsumtif, melainkan diputar kembali untuk membeli sapi baru.
“Prinsip saya dari dulu, hasil sapi harus jadi sapi lagi,” tutur dia.
Dari dua ekor sapi, usaha mereka perlahan berkembang. Tahun demi tahun, jumlah ternak bertambah. Meski sempat hidup ngontrak hingga tujuh tahun, Siti dan suami tak menyerah membangun usaha peternakan.
Ia mengaku banyak mendapat dukungan dari kelompok tani dan pembinaan peternakan di Bontang. Bahkan saat ada sapi sakit, petugas langsung datang membantu tanpa biaya.
“Kalau sapi pilek atau sakit, tinggal telepon petugas. Obatnya gratis. Kami sangat terbantu waktu itu,” terangnya.
Menjelang Iduladha tahun ini, kandang milik Siti nyaris kosong. Dari total sekitar 125 ekor sapi yang dipasarkan, hampir semuanya sudah terjual. Bahkan masih ada pesanan masuk sekitar tujuh ekor lagi.
“Yang tersisa tinggal dua ekor, tapi pesanan masih ada,” katanya sambil tersenyum.
Sapi-sapi tersebut didatangkan dari berbagai daerah, termasuk Kupang. Sebagian lagi merupakan sapi milik peternak lokal yang dibantu dipasarkan.
“Kalau mendekati hari H biasanya kami rangkul petani yang sapinya belum terjual. Kita bantu jualkan,” jelasnya.
Beragam jenis sapi tersedia di kandangnya. Mulai sapi Bali, Rambon, Limosin simental hingga Brangus. Bobotnya pun bervariasi, dari 200 kilogram hingga lebih dari 800 kilogram.
Harga jualnya mulai Rp18 juta sampai Rp70 juta per ekor, tergantung jenis dan ukuran sapi. “Tahun ini yang paling banyak dicari ukuran di harga Rp24 jutaan,” sebutnya.
Meski omzet penjualan besar saat musim kurban, Siti menegaskan usaha peternakan tidak sekadar soal jual beli sapi. Menurutnya, peternak harus cermat menghitung biaya operasional agar tetap untung.
“Kalau untung cuma Rp1 juta per ekor, habis buat bayar karyawan, pakan, solar dan kebutuhan harian,” ungkapnya.
Saat ini ia mempekerjakan delapan karyawan. Dua di antaranya khusus menangani peternakan ayam miliknya. Sebab selain sapi, Siti juga mengembangkan usaha pupuk kompos dari limbah ternak.
Menurutnya, seluruh limbah kandang dimanfaatkan agar menghasilkan nilai ekonomi tambahan. Mulai pupuk kandang, media tanam organik hingga kompos untuk kebutuhan pertanian dan reklamasi tambang.
“Tidak ada yang terbuang. Semua dimanfaatkan,” ulasnya.
Kompos tersebut dijual dengan harga Rp25 ribu hingga Rp55 ribu per karung. Dalam sebulan, penjualannya mampu menghasilkan puluhan juta rupiah.
Ia bahkan sempat memasok pupuk kandang ke perusahaan tambang untuk kebutuhan penghijauan lahan bekas tambang.
“Alhamdulillah pernah masuk ke perusahaan tambang juga,” tuturnya.
Bagi Siti, usaha peternakan bukan sekadar mencari keuntungan. Ada proses panjang, kerja keras dan ketekunan yang harus dijalani.
“Orang lihat sekarang mungkin enak. Tapi dulu perjuangannya luar biasa,” sebut dia.
Menurutnya, total penjualan kotor pada tahun ini diperkirakan tembus Rp2,2 miliar. Sementara untuk keuntungan bersih diperkirakan ratusan juta rupiah. (*)
Editor : Ismet Rifani