KALTIMPOST.ID, BONTANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilayani Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Selatan 05 untuk sementara dihentikan mulai Rabu (10/6). Penghentian layanan dipicu belum cairnya dana operasional dari pemerintah pusat ke rekening virtual account pengelola dapur MBG.
Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Pemberitahuan SPPG Bontang Selatan 05 Yayasan Ainia Rasiyifa Lil Ummah Nomor 01/SPb/SPPGBS05/VI/2026 tertanggal 9 Juni 2026.
Dalam surat itu dijelaskan, kegiatan penyelenggaraan MBG tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya karena dana operasional belum diterima. Akibatnya, distribusi makanan bergizi kepada para penerima manfaat dihentikan sementara hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
Baca Juga: Libur Sekolah Tiba, Polisi Tingkatkan Pengamanan Rumah Kosong dan Tempat Wisata
Koordinator SPPG Bontang Selatan 05, Aldila Huud, membenarkan penghentian operasional tersebut. Menurut dia, kendala yang dihadapi murni terkait keterlambatan pencairan dana operasional.
“SPPG Bontang Selatan 05 sementara berhenti karena terkendala dana operasional yang belum masuk. Untuk kapan kembali beroperasi, kami masih menunggu perkembangan proses pencairan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (10/6).
Aldila mengatakan, pihaknya telah melaporkan kondisi tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Saat ini, proses pendataan dapur MBG yang belum menerima pencairan dana masih berlangsung.
Menurut informasi yang diterima, pencairan dana berpotensi dilakukan dalam waktu dekat.
“Kami masih menunggu update. Kemarin sudah dilakukan pendataan dapur yang belum menerima dana. Kalau prosesnya lancar, kemungkinan pencairan bisa dilakukan Kamis atau Jumat ini,” katanya.
Baca Juga: Klaim BPJS Ketenagakerjaan di Kutim Tembus 5.105 Kasus hingga Akhir Mei
Ia menjelaskan, mekanisme pendanaan MBG dilakukan melalui pemantauan saldo harian oleh pemerintah pusat. Ketika saldo operasional dapur berada di bawah batas tertentu, dana akan ditambahkan kembali sesuai kebutuhan operasional.
“Setiap hari ada pelaporan saldo. Dari pusat memantau. Biasanya ketika saldo berada di bawah Rp150 juta hingga Rp200 juta, akan dilakukan top up sampai sekitar Rp500 juta. Kemungkinan kali ini ada kendala administrasi atau pendataan sehingga pencairannya terlambat,” jelasnya.
Aldila menegaskan, persoalan keterlambatan dana operasional hanya terjadi di SPPG Bontang Selatan 05. Sementara dapur MBG lainnya di Kota Bontang masih beroperasi normal.
“Kalau yang terkendala dana operasional di Bontang Selatan baru dapur lima. Dapur lainnya aman. Ada yang sempat terkendala persoalan layout atau sarana, tetapi bukan karena dana operasional,” terangnya.
Penghentian layanan juga berdampak pada tenaga kerja yang bertugas di dapur tersebut. Selama operasional dihentikan, para pekerja untuk sementara diliburkan karena sistem honor mengikuti aktivitas dapur.
Baca Juga: Raperda Sempadan Sungai Disusun, BWS: Tujuannya Melindungi Masyarakat
“Karena operasional berhenti, tenaga kerja sementara diliburkan. Sistem honornya memang mengikuti kegiatan operasional dapur,” tambahnya.
Berdasarkan data SPPG Bontang Selatan 05, terdapat 2.398 penerima manfaat yang terdampak penghentian sementara layanan ini. Mereka terdiri atas siswa, guru, tenaga nonkependidikan, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Distribusi MBG dari dapur tersebut mencakup SD 011 Bontang Selatan, SD 06 Bontang Selatan, SD Aisyiyah, SD Advent, SMP YPVDP, SMA YPVDP, SMA Tunas Bangsa, TK dan KB Al Kautsar, TK Aisyah Athfal, TK GOPKB, KB Efata, serta tempat penitipan anak Famus Kids. Program juga menjangkau Posyandu Juwita 1, Juwita 2, Semoga Jaya, dan Tunas Muda untuk layanan ibu dan balita. (*)
Editor : Ery Supriyadi