BONTANG- Kelurahan Gunung Elai kembali mengandalkan kekuatan partisipasi masyarakat sebagai senjata utama dalam ajang Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Kalimantan Timur 2026. Kelurahan ini dipilih Kota Bontang setelah berhasil mengalahkan Belimbing dan Berebas Tengah.
Berbagai inovasi berbasis swadaya warga menjadi nilai unggulan yang diyakini mampu mengantarkan kelurahan tersebut meraih prestasi terbaik. Lurah Gunung Elai Sulistyo mengatakan, keberhasilan pembangunan di wilayahnya tidak hanya bertumpu pada program pemerintah. Namun juga lahir dari keterlibatan aktif masyarakat melalui kelompok masyarakat (Pokmas) dan lembaga kemasyarakatan kelurahan.
Menurutnya, terdapat tiga inovasi utama yang menjadi unggulan Kelurahan Gunung Elai. Yakni Pokmas Gunung Elai Bergerak Bersama, Pokmas Gunung Elai Peduli, dan Pokmas Gunung Elai Mengaji.
“Keunggulan kami ada pada swadaya masyarakat melalui berbagai inovasi yang berjalan dan berkembang sampai sekarang,” kata Sulistyo.
Ia menjelaskan, program Gunung Elai Bergerak Bersama awalnya merupakan kegiatan olahraga bersama yang melibatkan seluruh pengurus RT, mulai dari ketua RT, sekretaris, bendahara hingga lembaga kemasyarakatan kelurahan (LKK).
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bergiliran di setiap RT setiap bulan. Seiring waktu, program berkembang tidak hanya menjadi sarana olahraga, tetapi juga wadah memperkuat gotong royong warga.
“Sekarang dikombinasikan dengan kerja bakti dan bersih lingkungan. Jadi setelah olahraga bersama, seluruh peserta melakukan gotong royong di lokasi yang sudah ditentukan,” ucapnya.
Sementara itu, Pokmas Gunung Elai Peduli berfokus pada kegiatan sosial dan kemanusiaan yang didukung pendanaan swadaya masyarakat. Salah satu program yang berhasil dijalankan adalah pembangunan puluhan drum beton untuk mendukung pengentasan buang air besar sembarangan (BABS) di kawasan pesisir Tanjung Limau.
Program tersebut menyasar RT 1, RT 2 dan RT 3 yang sebelumnya masih menghadapi persoalan sanitasi.
“Melalui dana swadaya masyarakat, terbangun hampir 40 drum beton. Program ini membantu mengentaskan BABS sekaligus menjaga lingkungan pesisir dari pencemaran limbah,” tutur dia.
Saat ini, seluruh sasaran program telah terpasang dan berfungsi dengan baik. Keberhasilan tersebut turut mendukung status Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan di wilayah Gunung Elai.
Adapun inovasi Gunung Elai Mengaji diarahkan untuk memperkuat nilai keagamaan, keimanan dan ketakwaan masyarakat. Program tersebut berjalan berdampingan dengan berbagai gerakan sosial yang mendorong kepedulian antarwarga.
Sulistyo menambahkan, semangat gotong royong yang tumbuh di masyarakat menjadi modal penting dalam pembangunan wilayah. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, RT, LKK dan warga menjadi faktor utama keberhasilan berbagai program yang dijalankan.
“Semua bergerak bersama. Inilah kekuatan utama Gunung Elai yang kami tampilkan dalam lomba kelurahan tahun ini,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani