KALTIMPOST.ID, BONTANG - Proses pelaksanaan sistem penerimaan murid baru (SPMB) jenjang SMA dan SMK telah melewati tahap pertama. Berbagai macam keluhan pun muncul pada pelaksanaan pendaftaran ini.
Salah satu orangtua pendaftar di Kota Bontang, Yosep mengatakan sistem menjadi faktor utama buruknya pelaksanaan SPMB. Khususnya di hari perdana. Pasalnya sistem jaringan down hingga berujung pengaturan pembatasan akses di hari kedua.
“Pada hari pertama itu masalahnya. Jaringan tidak bisa dibuka. Untungnya ada perpanjangan waktu pendaftaran,” kata Yosep, Minggu (28/6).
Selain itu, perubahan pengelolaan sistem dari pihak ketiga ke Disdikbud Kaltim masih belum familiar. Utamanya terkait komponen sistem yang muncul. Sisi positifnya yakni kuota di tahap kedua sudah terdapat pengumuman berdasarkan hasil tahap pertama.
“Dari sisa jalur yang ada itu sudah tertera akan dipindahkan ke jalur domisili atau regular,” ucapnya. Sementara di jalur prestasi, capaian yang diikuti oleh pendaftar tidak dimunculkan pada situs tersebut. Sistem hanya menerangkan pendaftar memiliki prestasi akademik, non akademik, atau keagamaan.
“Akses untuk publik itu tidak diperlihatkan misalnya pendaftar itu juara satu tingkat provinsi di bidang sepakbola. Tentu ini rawan sekali. Seharusnya dibuka,” tutur dia.
Belum lagi di jalur mutasi, publik tidak bisa memantau asal sekolah dari pendaftar. Justru sistem menampilkan NISN dan nama. Mengingat jalur ini menurut Yosep rawan sekali terdapat titipan.
“Kalau di jenjang SMP itu dimunculkan asal sekolahnya, Misalnya dari luar Kota Bontang, berarti memang layak masuk jalur mutasi,” terangnya.
Ia berharap ada perbaikan sistem di tahapan kedua nanti. Mengingat pertarungan lebih sengit bakal terjadi. Data yang terdapat kesalahan di tahap pertama tidak boleh terulang. Salah satu contohnya terkait nilai rapor terdapat perbedaan antara dokumen asli dengan yang ditanam di server.
“Tetangga saya ada 25 nilai yang berbeda saat itu. Akses yang sebelumnya hanya dimiliki Disdikbud Kaltim akhirnya diberikan wewenang ke operator sekolah untuk mengubahnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo