KALTIMPOST.ID- Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) jenjang SD dan SMP yang dijadwalkan mulai 13 Juli mendatang mendapat perhatian dari Sekretaris Komisi A DPRD Bontang, Saeful Rizal. Ia mengingatkan agar seluruh sekolah menjadikan MPLS sebagai ruang adaptasi yang aman, menyenangkan, sekaligus mendidik bagi peserta didik baru.
Menurut Saeful, konsep MPLS yang telah disusun pemerintah pada dasarnya sudah cukup baik. Namun, masih diperlukan penekanan terhadap sejumlah aspek penting agar kegiatan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi siswa, guru, maupun seluruh warga sekolah.
"Saya sudah melihat dan mempelajari berulang-ulang bagan MPLS. Saya melihat sudah cukup bagus. Tinggal bagaimana meningkatkan kebermanfaatannya bagi semua pihak," kata Saeful, Jumat (3/7/2026). Saeful menilai, perhatian pertama harus diberikan pada pembentukan karakter dan kondisi spiritual seluruh warga sekolah.
Menurutnya, suasana batin yang baik akan berpengaruh terhadap moralitas, kenyamanan, hingga terciptanya hubungan harmonis antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, dan orang tua. Selain itu, ia meminta sekolah menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar kondusif sejak hari pertama. Ia mengingatkan agar tidak ada praktik perundungan, ejek-mengejek, maupun tindakan kekerasan fisik antarsiswa selama pelaksanaan MPLS.
Baca Juga: Restrukturisasi Utang Rp 2,9 Miliar, Dirut PT LBB Bontang Ogah Bayar Bunga karena Alasan Ini
"Jangan sampai ada bully-membully, jangan sampai ada ejek-mengejek, apalagi tindakan fisik. Anak-anak harus merasa aman sejak pertama kali masuk sekolah," ucapnya. Politikus PKS tersebut juga menyoroti pentingnya menanamkan etika kepada peserta didik baru. Menurutnya, penghormatan kepada guru, kepala sekolah, dan seluruh tenaga kependidikan perlu dibangun sejak awal agar tercipta budaya sekolah yang positif.
Ia mengaku prihatin dengan berbagai kasus di sejumlah daerah yang menunjukkan menurunnya sikap hormat siswa terhadap guru. Karena itu, momentum MPLS dinilai tepat untuk memperkuat pendidikan karakter.
"Anak-anak harus dikondisikan agar memiliki etika yang baik kepada guru, kepala sekolah, maupun seluruh petugas sekolah. Itu menjadi perhatian yang sangat penting," tutur dia. Tak hanya itu, Saeful berharap MPLS juga mampu membangun semangat belajar siswa. Ia menginginkan sekolah menghadirkan suasana pembelajaran yang membuat anak-anak mencintai proses belajar, bukan karena tekanan dari guru maupun orang tua.
Menurutnya, lingkungan pendidikan harus mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan inisiatif belajar secara alami sehingga siswa merasa rindu datang ke sekolah setiap hari. "Belajar harus menjadi sesuatu yang mereka rindukan, bukan karena dikejar-kejar guru atau orang tua," terangnya.
Di sisi lain, Saeful juga mengingatkan agar sekolah tidak membebani orang tua dengan berbagai permintaan perlengkapan atau atribut yang tidak diperlukan selama MPLS. Kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, kata dia, seharusnya tidak menjadi beban tambahan bagi keluarga peserta didik.
Ia menegaskan, citra MPLS sebagai ajang perpeloncoan juga harus benar-benar dihilangkan. Menurutnya, kegiatan tersebut harus berlangsung ramah anak, penuh edukasi, dan meninggalkan kesan positif bagi peserta didik baru.
"Jangan sampai muncul lagi anggapan bahwa MPLS itu seperti ospek atau perpeloncoan yang membuat anak-anak trauma dan orang tua merasa anaknya tidak aman. Buatlah kegiatan yang enjoy, nyaman, fun, menyegarkan, sehingga anak-anak merasa berkesan dan semakin semangat memulai kehidupan sekolahnya," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki