KALTIMPOST.ID, BONTANG – Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bontang belakangan menjadi perhatian masyarakat.
Pemkot Bontang menilai kondisi tersebut bukan semata dipicu berkurangnya kuota Pertalite, melainkan meningkatnya permintaan akibat peralihan pengguna Pertamax ke BBM bersubsidi.
Baca Juga: Bontang Deflasi 2,26 Persen pada Juli 2026, Harga Cabai dan Bawang Merah Turun
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Kota Bontang Moch Arif Rochman mengatakan, hingga kini tidak ada informasi mengenai pengurangan kuota Pertalite yang menjadi penyebab antrean.
"Disparitas harga Pertamax dengan Pertalite masih cukup jauh. Pengguna yang biasanya memakai Pertamax akhirnya banyak yang beralih ke Pertalite," ujarnya.
Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat tersebut juga menjadi salah satu poin yang disampaikan Pemkot Bontang dalam surat resmi kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Dalam surat itu dijelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax, mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan Pertalite yang harganya lebih terjangkau.
Baca Juga: Mobil Pajero Berpelat Nomor Jorok Ditilang Polres Sragen, Pengemudi Ternyata Seorang Perempuan
Akibatnya, permintaan terhadap Pertalite terus meningkat dan memicu antrean di sejumlah SPBU.
Data Pemkot Bontang mencatat kuota Pertalite pada 2026 sebesar 24.344 kiloliter (KL). Hingga Juni 2026, realisasi penyaluran telah mencapai 11.688 KL sehingga tersisa 12.656 KL untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.
Sementara itu, kuota solar ditetapkan sebanyak 17.187 KL. Realisasinya hingga Juni mencapai 8.272 KL dengan sisa kuota 8.915 KL.
Pemkot juga menilai keterbatasan pasokan dibandingkan tingginya kebutuhan masyarakat menjadi salah satu penyebab antrean kendaraan di SPBU. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada efisiensi waktu, produktivitas masyarakat, kelancaran lalu lintas, hingga aktivitas pelaku UMKM di sekitar lokasi SPBU.
Baca Juga: Polres Nunukan Amankan Tiga Orang Terkait Unggahan Bermuatan SARA di Facebook
Namun, Arif belum bersedia menyimpulkan adanya dugaan penimbunan BBM sebagai penyebab kelangkaan Pertalite di tingkat pengecer.
"Kalau untuk memvonis ada penimbunan atau tidak, tentu harus diteliti lebih jauh," tegasnya.
Menurutnya, fokus pemerintah saat ini adalah memastikan pasokan BBM bagi masyarakat tetap terpenuhi, mengingat tingginya mobilitas kendaraan dan aktivitas industri di Kota Bontang.
Selain itu, distribusi BBM dari terminal Pertamina juga menjadi perhatian. Berdasarkan surat yang disampaikan kepada BPH Migas, realisasi pengiriman dari terminal BBM dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan riil maupun permintaan SPBU sehingga stok di sejumlah titik kerap terbatas.
Baca Juga: Wasit Asal Balikpapan Pimpin Final World Cup Woodball di Malaysia
Karena itu, Pemkot Bontang mendorong penambahan kuota BBM sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, BPH Migas, dan Pertamina agar distribusi dapat berjalan lebih optimal.
Arif juga mengimbau masyarakat tetap membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan agar distribusi dapat berlangsung lebih merata. (*)
Editor : Dwi Restu A