Hasil Investigasi Keracunan MBG Bontang, Bakteri Patogen Ditemukan pada Ayam Serundeng dan Gulai

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 20:51 WIB
Agus Haris (dua kiri) memberikan keterangan terkait kejadian keracunan MBG, Senin (10/6). (FOTO ADIEL KUNDHARA/KP)
Agus Haris (dua kiri) memberikan keterangan terkait kejadian keracunan MBG, Senin (10/6). (FOTO ADIEL KUNDHARA/KP)

KALTIMPOST.ID-Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang mengungkap hasil investigasi dugaan keracunan makanan dalam program makan bergizi gratis (MBG) yang bersumber dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara Api-Api.

Dari pemeriksaan laboratorium, ditemukan bakteri patogen pada sejumlah sampel pangan yang dikonsumsi penerima manfaat.

Kepala Diskes Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, pihaknya menerima laporan kejadian sakit akibat pangan pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Laporan tersebut disampaikan Korwil Badan Gizi Nasional (BGN) Bontang terkait penerima manfaat MBG dari SPPG Bontang Utara Api-Api.

Baca Juga: Kasus Keracunan MBG di Bontang, Pemkot Panggil Seluruh SPPG dan Sekolah untuk Perketat Pengawasan

“Setelah dilakukan investigasi dan penyelidikan epidemiologi, pada 6 Agustus teridentifikasi 27 kasus sakit,” kata Toetoek saat menyampaikan hasil investigasi, Senin (10/8).

Dari 27 kasus tersebut, sebanyak 14 merupakan siswa, 11 guru, dan dua wali murid. Jumlah itu berasal dari sekitar 2.036 penerima manfaat MBG yang mendapatkan makanan dari SPPG tersebut.

Toetoek memastikan seluruh penerima manfaat yang mengalami keluhan telah berada dalam kondisi pulih atau stabil berdasarkan pemantauan hingga 7 Agustus 2026. Diskes juga tidak menemukan penambahan kasus baru setelah tanggal tersebut.

“Alhamdulillah, sampai saat ini sudah tidak ada lagi. Sudah pulih per tanggal 7 dan tidak ada penambahan kasus baru,” ucapnya.

Temuan penting dalam investigasi tersebut berasal dari pemeriksaan laboratorium terhadap sampel pangan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri patogen pada sampel ayam serundeng dan gulai sayur.

Dinkes kemudian mengidentifikasi sejumlah titik risiko yang berpotensi menyebabkan kontaminasi pangan. Salah satunya berkaitan dengan higiene penjamah makanan, khususnya saat makanan ditangani, diporsikan, hingga dimasukkan ke dalam wadah.

Baca Juga: Alumnus SMEA 1 Balikpapan Sambut HUT Ke-81 RI lewat Lomba 17-an untuk Perekat Silaturahmi

Selain itu, proses pendinginan makanan juga menjadi perhatian. Toetoek menyebut penggunaan alat bantu seperti kipas angin perlu dipastikan kebersihannya. 

Sebab, kipas yang berdebu berpotensi menjadi media penyebaran kontaminan ke makanan yang telah selesai dimasak.

“Misalnya kipas angin untuk pendinginan. Kadang bisa dilihat berdebu dan lain-lain. Dia malah akan menyebarkan kepada makanan yang sejatinya sudah bersih,” tutur dia.

Diskes juga menyoroti penggunaan bahan pengganti atau inovasi baru dalam pengolahan makanan. Salah satunya penggunaan kemiri sebagai pengganti santan kelapa.

Menurut Toetoek, setiap bahan pengganti perlu dikaji terlebih dahulu dari aspek keamanan pangan, termasuk kemungkinan menimbulkan alergi maupun risiko lain apabila proses pengolahannya tidak sesuai.

Hasil investigasi ini selanjutnya menjadi dasar bagi Diskes untuk memberikan pembinaan dan rekomendasi teknis kepada pengelola SPPG.

Perbaikan terutama diarahkan pada higiene dan sanitasi, penanganan makanan setelah dimasak, proses pemorsian dan pewadahan, serta pencegahan kontaminasi silang.

Dinkes memastikan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi agar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG di Bontang semakin diperketat. (rd)

Editor : Romdani.
pkt bontang ibu kota nusantara Makan Bergizi Gratis Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni keracunan mbg