KALTIMPOST.ID-Sebanyak 11 siswa dari sekolah Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra (YPVDP) yang menjalani perawatan di RS LNG Badak setelah mengalami gejala diduga keracunan usai mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) di Bontang menunjukkan kondisi yang semakin membaik.
Rumah sakit masih melakukan observasi untuk memastikan kondisi para pasien benar-benar stabil sebelum diperbolehkan pulang.
Direktur Utama RS LNG Badak dr Nurul Fathoni mengatakan seluruh pasien yang dirawat telah mendapatkan penanganan medis sesuai dengan gejala yang dialami.
“Alhamdulillah kalau melihat kondisinya, tertangani dengan baik. Kondisi awal mereka seperti kram perut, muntah, ada juga yang pusing dan panas, nampaknya sudah semakin membaik,” kata Nurul, Senin (10/8).
Baca Juga: Teras Samarinda 2 Dibuka 1 September, Satpol PP Siapkan 22 Personel dan Pengamanan Tiga Shift
Sebelumnya, sebanyak 31 siswa dilaporkan datang ke rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan.
Dari jumlah tersebut, 11 siswa kemudian harus menjalani perawatan untuk mendapatkan observasi dan penanganan lebih lanjut.
Nurul menyebut, kondisi pasien yang sempat dinilai paling berat juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Pasien tersebut saat ini berada di kamar 21.
“Kalau melihat dari kondisi yang paling berat itu yang di kamar 21. Tapi ternyata melihat kondisi ini jauh lebih baik,” ucapnya.
Ia berharap pasien yang menjalani perawatan dapat segera pulih. Jika tidak ditemukan gejala tambahan dan kondisi tetap stabil, sebagian besar pasien diperkirakan sudah dapat dipulangkan dalam waktu sekitar satu hari.
“Semoga satu hari atau satu malam di sini besok sudah sembuh, teratasi dengan baik dan bisa segera pulang,” tutur dia.
Terkait penanganan medis, Nurul menjelaskan rumah sakit terlebih dahulu melihat gejala yang muncul serta kondisi masing-masing pasien.
Baca Juga: Unmul Terapkan IPAL di UMKM Tempe Loa Pari Kukar, Atasi 1.500 Liter Limbah Cair Setiap Hari
Keluhan seperti mual, muntah, nyeri dan kram perut menjadi perhatian utama dalam menentukan tindakan medis.
Menurutnya, gejala tersebut mengarah pada adanya gangguan pada sistem pencernaan. Apalagi keluhan muncul secara bersamaan setelah para siswa mengonsumsi makanan.
“Kalau melihat tadi mual, muntah, nyeri perut, kemudian juga kram dan seterusnya, yang perlu diatasi adalah kondisi akibat muntah dan sebagainya. Cairan banyak keluar, tentu harus diganti dengan cairan infus,” terangnya.
Pemberian cairan infus dilakukan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat muntah.
Selain itu, pasien tertentu juga mendapatkan obat yang diberikan melalui pembuluh darah sesuai kebutuhan medis.
Sementara itu, pasien dengan kondisi yang relatif ringan tidak selalu membutuhkan tindakan medis berupa infus maupun pemberian obat melalui pembuluh darah.
RS LNG Badak masih melakukan pemantauan terhadap pasien yang menjalani perawatan.
Observasi dilakukan untuk memastikan gejala yang sebelumnya muncul benar-benar terkendali dan tidak berkembang menjadi keluhan tambahan.
Nurul mengatakan, waktu observasi bergantung pada perkembangan kondisi masing-masing pasien. Namun, apabila kondisi terus membaik, masa pemantauan sekitar 24 jam dinilai cukup.
Baca Juga: Kesbangpol dan FKDM Kaltim Perkuat Kewaspadaan Dini di Kubar, FKDM Bakal Dibentuk hingga Kecamatan
“Mudah-mudahan satu hari cukup, 24 jam cukup. Jadi tanda-tanda yang muncul itu bisa teratasi, terkontrol dengan baik, kemudian tidak ada gejala tambahan,” sebutnya.
Ia menambahkan, pasien dengan gangguan pencernaan dan kondisi yang terus membaik umumnya dapat mengalami pemulihan dalam rentang waktu sekitar enam hingga 24 jam.
Meski demikian, keputusan untuk memulangkan pasien tetap mempertimbangkan hasil observasi dan kondisi klinis masing-masing siswa. (rd)
Editor : Romdani.