Dugaan Keracunan MBG di Bontang Jadi Evaluasi, Pemkot Pastikan Program Tetap Jalan tapi Diperketat

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:27 WIB
Agus Haris menjenguk pelajar yang dirawat di RS LNG Badak setelah diduga keracunan MBG. (FOTO ADIEL KUNDHARA/KP)
Agus Haris menjenguk pelajar yang dirawat di RS LNG Badak setelah diduga keracunan MBG. (FOTO ADIEL KUNDHARA/KP)

KALTIMPOST.ID-Dugaan keracunan dalam program makan bergizi gratis (MBG) di Bontang memunculkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan wali siswa.

Pemkot Bontang memastikan program tersebut tetap berjalan, sembari memperketat pengawasan agar makanan yang diterima siswa benar-benar aman dikonsumsi.

Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris meminta masyarakat tidak langsung panik akibat kejadian tersebut.

Pemerintah bersama Dinas Kesehatan telah melakukan langkah penanganan dan evaluasi terhadap persoalan yang muncul.

Baca Juga: Teras Samarinda 2 Dibuka 1 September, Satpol PP Siapkan 22 Personel dan Pengamanan Tiga Shift

AH mengatakan, keamanan makanan dalam program MBG merupakan tanggung jawab bersama.

Pemerintah, pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) hingga pihak sekolah memiliki peran masing-masing untuk mencegah persoalan serupa.

“Orangtua tidak perlu terlalu panik. Pemerintah hadir untuk memastikan persoalan ini ditangani dan program tetap berjalan dengan ketentuan yang akan kami perketat,” kata AH saat konferensi pers, Senin (10/8).

Ia memahami apabila terdapat orang tua yang kemudian merasa khawatir atau bahkan memilih tidak memberikan makanan MBG kepada anaknya.

Menurut Agus, kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar setelah adanya kejadian yang membuat masyarakat cemas.

Namun, ia meminta persoalan tersebut tidak berkembang menjadi penolakan secara luas terhadap program MBG.

Pemerintah tetap akan memberikan ruang bagi orangtua untuk menentukan sikap, sembari memastikan pengelola dan pemerintah memperbaiki sistem pengawasan.

Baca Juga: Unmul Terapkan IPAL di UMKM Tempe Loa Pari Kukar, Atasi 1.500 Liter Limbah Cair Setiap Hari

“Kalau ada orangtua yang masih merasa khawatir, itu bisa dimaklumi. Tetapi kami berharap masyarakat tetap memberikan kepercayaan kepada pengelola dan pemerintah untuk memperbaiki pengawasan,” ucapnya.

AH menegaskan, tidak ada pihak yang menginginkan makanan yang diberikan melalui program MBG justru menimbulkan masalah bagi penerima manfaat.

Karena itu, kejadian tersebut harus dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki seluruh proses pelayanan.

Salah satu langkah yang disiapkan Pemkot Bontang adalah mempertemukan seluruh pengelola SPPG dengan sekolah yang menjadi mitra.

Rapat tersebut akan membahas kembali prosedur yang harus dipenuhi dalam penyediaan dan pendistribusian makanan.

Sekolah juga diminta tidak hanya menerima makanan secara pasif. Pihak sekolah diharapkan ikut memerhatikan kondisi makanan ketika tiba dan segera berkomunikasi dengan SPPG apabila menemukan hal yang tidak sesuai.

“Sekolah juga berkepentingan menjaga makanan yang diterima anak-anak. Kalau ada sesuatu yang ditemukan, harus segera disampaikan sehingga bisa ditindaklanjuti,” tutur dia.

Menurutnya, pengawasan juga akan diarahkan agar komunikasi antara SPPG, sekolah, dan pemerintah berlangsung lebih intensif.

Frekuensi pemantauan bahkan akan dievaluasi sehingga tidak hanya mengandalkan pemeriksaan dalam rentang waktu tertentu.

Baca Juga: Pogba Bontang FC Jajaki Kerja Sama dengan Ajax Academy untuk Pembinaan Pemain Muda

AH menyebut pola pengawasan dapat dilakukan lebih sering, termasuk kemungkinan pemantauan setiap satu atau dua hari. 

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan standar kebersihan dan keamanan pangan tetap dijalankan secara konsisten.

“Kalau sebelumnya mungkin pengawasan dilakukan secara berkala, ke depan bisa kami tingkatkan. Yang penting komunikasi dan pemantauan tidak terputus,” terangnya.

Ia menambahkan, program MBG memiliki tujuan yang lebih luas, bukan sekadar menyediakan makanan bagi siswa.

Program tersebut juga diharapkan membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi anak sekaligus mendukung aspek sosial dan ekonomi masyarakat.

Karena itu, AH memastikan Pemkot Bontang tidak akan mengambil keputusan tergesa-gesa untuk menghentikan pelaksanaan MBG.

Evaluasi akan diarahkan pada perbaikan tata kelola dan pengawasan, bukan menghilangkan program.

“Kami pemerintah harus mengawal program ini. Yang kami inginkan adalah bagaimana makanan yang diberikan benar-benar terbaik dan aman dikonsumsi anak-anak,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
Makan Bergizi Gratis Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni pemkot bontang Kutai Barat keracunan mbg