KALTIMPOST.ID-Dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bontang belum menemukan titik terang.
Satu menu nasi uduk yang dikonsumsi siswa SMP YPVDP menjadi salah satu perhatian setelah sejumlah penerima MBG mengalami keluhan kesehatan dan harus mendapat penanganan medis.
Koordinator SPPG Wilayah Bontang Selatan Aldila Huud mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan makanan atau bahan tertentu yang menjadi pemicu kejadian tersebut. Pemeriksaan sampel masih menjadi rujukan utama sebelum kesimpulan ditarik.
Menurut Aldila, distribusi MBG dari SPPG Bontang Selatan 005 menyasar sekitar 10 hingga 11 sekolah serta sejumlah Posyandu.
Baca Juga: 31 Siswa Diduga Keracunan MBG di Bontang, 11 Dirawat di RS LNG Badak dan Kondisinya Membaik
Namun, berdasarkan laporan yang diterima hingga Senin (10/8), keluhan hanya muncul dari penerima di lingkungan sekolah YPVDP
“Sejauh ini yang baru melapor dari Vidatra, baik SD maupun SMP. Dari sekolah lain termasuk Posyandu belum ada keluhan,” kata Aldila.
Kondisi itu membuat dugaan penyebab belum bisa diarahkan pada satu faktor. Sebab, menu yang didistribusikan kepada penerima MBG di sejumlah lokasi relatif sama.
Aldila menyebut proses produksi makanan dilakukan dalam empat batch. Perbedaan waktu memasak menjadi salah satu aspek yang masih perlu diperiksa, meskipun bahan makanan yang digunakan disebut tidak berbeda.
“Kalau untuk bahan tidak ada perbedaan. Cuma dari jam masaknya memang berbeda karena ada empat batch memasak,” ucapnya.
Sebelumnya, sejumlah siswa yang mendapat perawatan menyebut menu yang mereka santap berupa nasi uduk, tahu kecap, ayam suwir, dan wortel.
Baca Juga: Teras Samarinda 2 Dibuka 1 September, Satpol PP Siapkan 22 Personel dan Pengamanan Tiga Shift
Ada pula korban yang mengaku mencium bau tidak biasa dari ayam serta melihat tahu kecap dalam kondisi seperti berlendir.
Namun, pemeriksaan awal terhadap sampel makanan yang masih tersedia belum menemukan indikasi tersebut.
Aldila mengatakan dirinya sempat mencicipi sampel nasi, ayam, dan tahu dari salah satu sekolah. Dari pengecekan tersebut, tidak ditemukan rasa atau bau yang mencurigakan.
“Saya juga sempat icip sampel yang ada. Dari nasi, ayam sampai tahunya, tidak ada indikasi bau atau kondisi seperti yang dikeluhkan,” tutur dia.
Meski demikian, pengecekan secara langsung tidak bisa menggantikan pemeriksaan laboratorium.
Tim puskesmas dan Dinas Kesehatan telah mengambil sampel dari SPPG Bontang Selatan 005 maupun sekolah untuk dilakukan pengujian.
Sementara itu, penggunaan kemiri dalam olahan nasi uduk juga menjadi perhatian. Aldila menjelaskan, menu MBG tidak menggunakan santan sehingga bahan pengganti yang digunakan adalah kemiri.
“Dari kami, dugaan awalnya memang kemiri. Tapi itu masih praduga karena kita juga menunggu hasil sampel,” terangnya.
Dugaan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan karena kejadian serupa sebelumnya juga pernah dikaitkan dengan bahan tersebut di SPPG Bontang Utara 2, pekan lalu.
Di sisi lain, pengawasan bahan baku juga menjadi bagian dari evaluasi. Aldila menyebut DKP3 tidak melakukan rapid test bahan pangan setiap hari karena pola pengambilan sampel dilakukan secara berkala.
Baca Juga: Unmul Terapkan IPAL di UMKM Tempe Loa Pari Kukar, Atasi 1.500 Liter Limbah Cair Setiap Hari
Pemeriksaan terhadap bahan baku sebelumnya dilakukan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi.
Bahkan, dapur SPPG Bontang Selatan 005 sempat didatangi tim Satgas untuk mengecek bahan makanan sebelum insiden terjadi.
Aldila menegaskan seluruh pihak kini menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber persoalan.
“Daripada kita saling menduga, lebih baik menunggu hasil dari laboratorium,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.