11 Siswa di Bontang Diduga Keracunan MBG, Begini Kondisinya di Rumah Sakit

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:52 WIB
Direktur Utama RS LNG Badak, dr. Nurul Fathoni,
Direktur Utama RS LNG Badak, dr. Nurul Fathoni,

 

KALTIMPOST.ID, BONTANG – Kondisi 11 siswa Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra (YPVDP) yang menjalani perawatan di RS LNG Badak setelah mengalami gejala diduga keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) mulai membaik.

Tim medis masih melakukan observasi untuk memastikan kondisi para siswa benar-benar stabil sebelum mereka diperbolehkan pulang.

Direktur Utama RS LNG Badak, dr. Nurul Fathoni, mengatakan seluruh pasien telah mendapatkan penanganan medis sesuai dengan gejala yang dialami.

Baca Juga: Kebakaran Bromo Meluas! 742 Hektare Lahan Terbakar, Api Mendekati Permukiman Warga

“Alhamdulillah kalau melihat kondisinya, tertangani dengan baik. Kondisi awal mereka seperti kram perut, muntah, ada juga yang pusing dan panas, nampaknya sudah semakin membaik,” kata Nurul, Senin (10/8/2026).

Sebelumnya, sebanyak 31 siswa dilaporkan datang ke rumah sakit setelah mengalami berbagai keluhan kesehatan. Dari jumlah tersebut, 11 siswa harus menjalani rawat inap untuk mendapatkan observasi dan penanganan lebih lanjut.

Nurul menyebut, pasien yang sempat mengalami kondisi paling berat juga menunjukkan perkembangan positif. Pasien tersebut saat ini dirawat di kamar 21.

“Kalau melihat dari kondisi yang paling berat itu yang di kamar 21. Tapi ternyata melihat kondisi ini jauh lebih baik,” ujarnya.

Ia berharap seluruh pasien yang masih menjalani perawatan dapat segera pulih. Jika tidak muncul gejala tambahan dan kondisi tetap stabil, sebagian besar siswa diperkirakan sudah dapat dipulangkan setelah menjalani observasi sekitar satu hari.

“Semoga satu hari atau satu malam di sini besok sudah sembuh, teratasi dengan baik dan bisa segera pulang,” tuturnya.

Baca Juga: 5 Tanda Anak Bakal Sukses di Masa Depan Menurut Para Ahli, Orang Tua Wajib Kenali Sejak Dini

Terkait penanganan medis, Nurul menjelaskan, rumah sakit terlebih dahulu melihat gejala dan kondisi masing-masing pasien. Keluhan seperti mual, muntah, nyeri, dan kram perut menjadi perhatian utama dalam menentukan tindakan.

Menurut dia, gejala tersebut mengarah pada gangguan sistem pencernaan. Terlebih, keluhan muncul secara bersamaan setelah para siswa mengonsumsi makanan.

“Kalau melihat tadi mual, muntah, nyeri perut, kemudian juga kram dan seterusnya, yang perlu diatasi adalah kondisi akibat muntah dan sebagainya. Cairan banyak keluar, tentu harus diganti dengan cairan infus,” jelasnya.

Pemberian cairan infus dilakukan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat muntah. Pada pasien tertentu, obat juga diberikan melalui pembuluh darah sesuai dengan kebutuhan medis.

Sementara itu, pasien dengan kondisi relatif ringan tidak selalu membutuhkan infus maupun obat melalui pembuluh darah.

RS LNG Badak hingga kini masih memantau perkembangan para siswa yang menjalani rawat inap. Observasi dilakukan untuk memastikan gejala yang sebelumnya muncul benar-benar terkendali dan tidak berkembang menjadi keluhan baru.

Nurul mengatakan, lama observasi bergantung pada perkembangan kondisi setiap pasien. Namun, jika kondisi terus membaik, masa pemantauan selama sekitar 24 jam dinilai sudah cukup.

“Mudah-mudahan satu hari cukup, 24 jam cukup. Jadi tanda-tanda yang muncul itu bisa teratasi, terkontrol dengan baik, kemudian tidak ada gejala tambahan,” katanya.

Ia menambahkan, pasien dengan gangguan pencernaan yang kondisinya terus membaik umumnya dapat mengalami pemulihan dalam rentang waktu sekitar enam hingga 24 jam.

Meski demikian, keputusan untuk memulangkan pasien tetap bergantung pada hasil observasi dan kondisi klinis masing-masing siswa.

Dengan kondisi yang terus menunjukkan perbaikan, para siswa tersebut diharapkan dapat segera meninggalkan rumah sakit tanpa mengalami keluhan lanjutan. (*)

Editor : Ery Supriyadi
keracunan mbg bontang siswa keracunan Bontang RS LNG Badak YPVDP Bontang makanan bergizi gratis