KALTIMPOST.ID- Misteri dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD-SMA YPVDP Bontang mulai memasuki tahap pemeriksaan laboratorium. Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Bontang kini menguji sejumlah sampel makanan untuk mencari kemungkinan bakteri penyebab pencemaran pangan.
Sampel makanan diterima Labkesda dari tim Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang pada Senin (10/8). Sampel tersebut terdiri atas nasi uduk, ayam suwir kemangi, tahu kecap, tumis pepaya wortel, dan jeruk ponti.
Kepala Dinkes Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, seluruh sampel diterima dalam kondisi beku. Pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan proses inkubasi dan pembiakan mikrobiologi. “Untuk mengevaluasi biakan diperlukan waktu minimal dua kali 24 jam. Hasil pemeriksaan akan dibaca Sabtu, 15 Agustus,” kata Toetoek.
Baca Juga: Dari 13 Pasien, Kini Tersisa Dua Korban Dugaan Keracunan MBG di RS LNG Badak
Menurut dia, pemeriksaan tersebut menggunakan metode kultur mikrobiologi. Karena itu, hasil tidak bisa langsung diketahui hanya dengan melihat sampel. Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui untuk memastikan keberadaan sekaligus mengidentifikasi bakteri.
Tahapan itu meliputi pengkayaan, penumbuhan, identifikasi, hingga konfirmasi. Proses pemeriksaan dapat berlangsung tiga sampai empat hari, tergantung jenis bakteri serta metode yang digunakan.
Sejumlah bakteri yang menjadi perhatian dalam pemeriksaan antara lain Salmonella, Shigella, Escherichia coli (E. coli), dan Staphylococcus. Bakteri-bakteri tersebut dapat menjadi indikator pencemaran pangan dan berhubungan dengan gangguan kesehatan akibat makanan yang terkontaminasi.
Baca Juga: Sempol Ikan Bikin Lidah Gatal, MBG SPPG Bontang Utara 4 Setop Distribusi 2.651 Porsi
Namun, Toetoek menegaskan hasil pemeriksaan laboratorium tidak otomatis menjadi penentu tunggal penyebab dugaan keracunan MBG. Hasil uji laboratorium nantinya harus dibandingkan dengan temuan penyelidikan epidemiologi di lapangan. Dinkes akan melihat kesesuaian antara bakteri yang ditemukan, jenis gejala yang dialami penerima manfaat, waktu munculnya keluhan, serta makanan yang dikonsumsi.
Jika tersedia, pemeriksaan spesimen dari penderita juga akan menjadi bagian dari analisis. Dengan cara tersebut, tim dapat melihat apakah terdapat keterkaitan antara agen pencemar pada makanan dengan kasus yang terjadi.
“Kalau hasil laboratorium sudah keluar dan dapat mengidentifikasi penyebab atau agen pencemar, pekerjaan Dinas Kesehatan belum selesai. Justru hasil laboratorium tersebut menjadi dasar untuk menentukan tindakan pengendalian,” ucapnya.
Baca Juga: Delapan Pelajar YPVDP Bontang Masih Dirawat di RS setelah Diduga Keracunan MBG, Mulai Alami Diare
Selain menguji sampel makanan, Dinkes juga akan memantau kondisi penerima manfaat yang mengalami keluhan. Perkembangan kondisi, jumlah kasus, jenis gejala, waktu munculnya gejala, pelayanan kesehatan hingga kondisi akhir pasien akan didokumentasikan.
Pemeriksaan juga diarahkan ke dapur penyedia makanan MBG. Penilaian terhadap Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) menjadi bagian penting untuk mencari kemungkinan sumber pencemaran.
Aspek yang diperiksa mencakup kualitas air, bahan baku, penyimpanan makanan, proses pengolahan, suhu makanan, distribusi, kebersihan peralatan, hingga higiene penjamah makanan.
Dinkes juga akan berkoordinasi dengan puskesmas, sekolah, BPOM, serta instansi terkait sesuai kebutuhan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan faktor risiko dapat ditemukan dan dikendalikan.
Baca Juga: Buntut Kasus Keracunan MBG, Dua SPPG Bontang Resmi Dihentikan Sementara Operasionalnya
Hasil pemeriksaan Labkesda dan penyelidikan epidemiologi selanjutnya menjadi bahan laporan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, terutama dalam menindaklanjuti laporan dugaan keracunan pangan atau kejadian luar biasa (KLB).
Dengan demikian, hasil laboratorium menjadi salah satu bagian penting untuk mengungkap dugaan keracunan MBG di Bontang. Namun, kepastian penyebab tetap menunggu keseluruhan rangkaian investigasi, bukan semata-mata berdasarkan hasil uji terhadap makanan. (riz)
Editor : Muhammad Rizki