KALTIMPOST.ID, BONTANG - Demam berdarah dengue (DBD) bukan penyakit musiman yang sesekali muncul di Bontang. Rekam data Dinas Kesehatan (Dinkes) menunjukkan kasus DBD berulang dari tahun ke tahun, bahkan sempat melonjak hingga 588 kasus dalam setahun.
Data perkembangan DBD Kota Bontang memperlihatkan jumlah kasus bergerak fluktuatif. Pada periode 2006–2016, angka kasus berada pada rentang 33 hingga 315 kasus per tahun. Memasuki periode 2020–2025, jumlahnya kembali melonjak dan mencapai titik tertinggi pada 2021.
Pada 2006, tercatat 146 kasus DBD tanpa kematian. Setahun berikutnya kasus naik menjadi 202, tetapi tidak tercatat kematian. Situasi berubah pada 2008. Dari 150 kasus DBD, tercatat empat pasien meninggal. Angka kematian kemudian kembali meningkat pada 2009 ketika dari 188 kasus terdapat enam kematian.
Baca Juga: Angkutan Barang Lewat Laut Kaltim Turun 7 Persen, Capai 9,08 Juta Ton
Pada 2010, jumlah kasus mencapai 189 dengan satu kematian. Tahun berikutnya kasus turun tajam menjadi hanya 33 kasus, tetapi tetap terdapat satu kematian. Kasus kembali bergerak naik pada 2012 dengan 127 kasus dan tiga kematian. Pada 2013, Dinkes mencatat 190 kasus dengan tiga kematian. Kemudian pada 2014 terdapat 192 kasus dan tiga kematian.
Tahun 2015 kasus mencapai 231, dengan dua kematian. Setahun kemudian, jumlah kasus kembali melonjak menjadi 315, disertai enam kematian. Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kasus tidak selalu berjalan lurus dengan jumlah kematian.
Namun, periode dengan kasus tinggi tetap menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat karena semakin banyak warga yang terpapar, semakin besar pula kebutuhan terhadap deteksi serta penanganan cepat.
Memasuki periode 2020–2025, pola DBD di Bontang kembali berubah drastis. Pada 2020 tercatat 269 kasus tanpa kematian. Angka tersebut kemudian melonjak lebih dari dua kali lipat pada 2021 menjadi 588 kasus.
Baca Juga: Balikpapan Jadi Andalan Kaltim di Kejurnas IODI, Target Juara Umum Porprov Mulai Dibidik
Tahun 2022 juga masih berada pada level tinggi dengan 585 kasus. Setelah itu, kasus mulai turun menjadi 457 kasus pada 2023. Penurunan tersebut tidak berlangsung permanen. Pada 2024, jumlah kasus kembali meningkat menjadi 558 kasus. Dari jumlah tersebut tercatat satu kematian.
Kemudian pada 2025, kasus DBD turun cukup tajam menjadi 328 kasus. Meski demikian, jumlah kematian justru tercatat dua kasus. Data bulanan juga menunjukkan pola yang menarik. Pada 2021, kasus tertinggi terjadi pada April dengan 89 kasus, disusul Maret sebanyak 87 kasus dan Mei 70 kasus.
Pada 2022, kasus tertinggi tercatat pada Agustus sebanyak 71 kasus, sedangkan 2023 mencapai puncak 55 kasus pada Mei. Sementara pada 2024, Januari menjadi bulan dengan kasus tertinggi, yakni 79 kasus, disusul April 61 kasus dan September 66 kasus. Pada 2025, kasus justru meningkat pada penghujung tahun, dengan November mencapai 61 kasus dan Oktober 55 kasus.
Jika tren tahunan memberikan gambaran besar, data per kelurahan menunjukkan bahwa ancaman DBD juga terkonsentrasi di sejumlah wilayah.
Dalam data DBD per kelurahan, Tanjung Laut dan Loktuan berulang kali masuk kelompok dengan kasus tinggi. Kondisi ini menunjukkan pengendalian DBD tidak cukup dilakukan secara umum, tetapi perlu memperhatikan karakter lingkungan dan riwayat kasus setiap wilayah.
Pada perkembangan terbaru, Dinkes Bontang mencatat 131 kasus DBD sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Kelurahan Tanjung Laut Indah menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 31 kasus, disusul Tanjung Laut sekitar 19 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan pengendalian DBD tetap harus mengutamakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). “Program Wolbachia ini sebenarnya program tambahan. Program utama tetap pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus,” pungkas Toetoek. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo