KALTIMPOST.ID-Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan program makan bergizi gratis (MBG) di Bontang menemukan bakteri Escherichia coli (E coli) pada menu ayam suwir.
Temuan itu muncul setelah sejumlah siswa mengalami keluhan mual, muntah, sakit perut hingga mulas usai menyantap makanan MBG yang didistribusikan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 05 Bontang Selatan.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat.
Baca Juga: Bupati Mudyat Noor Apresiasi Paskibraka PPU, Sukses Kibarkan Merah Putih pada HUT ke-81 RI
Kepala Diskes Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, keberadaan E. coli pada makanan matang seperti ayam suwir dapat menjadi indikator adanya persoalan higiene dan sanitasi yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
“E coli itu secara alami memang ada di saluran pencernaan manusia dan hewan berdarah panas. Tetapi kalau ditemukan pada makanan matang, ini menunjukkan ada persoalan pada higiene sanitasi yang perlu ditelusuri,” kata Toetoek, Senin (17/8).
Dalam kejadian tersebut, sejumlah siswa mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG. Salah satunya terjadi di SMP YPVDP Bontang.
Sebanyak 29 siswa sempat dibawa ke Rumah Sakit LNG Badak untuk mendapatkan penanganan medis. Dari jumlah tersebut, 13 siswa menjalani rawat inap dan observasi dokter.
Makanan MBG diterima sekolah sekitar pukul 08.30–09.00 Wita dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.30 Wita. Keluhan mulai muncul sekitar pukul 11.00 Wita, berupa mual, muntah, sakit perut hingga mulas.
Penanganan dilakukan secara bertahap lantaran keluhan tidak muncul secara bersamaan.
Siswa dengan kondisi lebih berat dibawa ke rumah sakit, sementara sebagian lainnya mendapatkan pemeriksaan dan pemantauan dengan bantuan tenaga kesehatan.
Kejadian tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan sampel makanan. Dari beberapa sampel yang diperiksa, ayam suwir diketahui mengandung E coli.
Baca Juga: Bupati Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Tokoh dan Warga Berprestasi di PPU Diberi Penghargaan
Namun, Toetoek mengingatkan temuan tersebut tidak boleh langsung dimaknai sebagai bukti bahwa E coli yang ditemukan merupakan penyebab seluruh siswa mengalami sakit.
Sebab, tidak semua jenis E coli bersifat patogen atau menyebabkan penyakit. Sebagian besar E coli hidup normal di saluran pencernaan manusia dan hewan.
Hanya jenis tertentu yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan, termasuk diare dan keracunan makanan.
“Jadi kita tidak bisa menyimpulkan hanya dari ditemukannya E coli bahwa semua orang yang mengonsumsi makanan tersebut pasti akan sakit. Masih perlu dilihat jenis bakterinya, jumlahnya, serta dikaitkan dengan hasil penyelidikan epidemiologi,” ucapnya.
Temuan E coli juga menjelaskan mengapa dalam satu kejadian dugaan keracunan pangan, tidak seluruh orang yang mengonsumsi makanan yang sama mengalami gejala.
Menurut Toetoek, jumlah bakteri yang tertelan setiap orang bisa berbeda. Kontaminasi pada makanan juga tidak selalu tersebar secara merata.
Ada kemungkinan sebagian porsi memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi dibandingkan porsi lainnya.
Jumlah makanan yang dikonsumsi juga berpengaruh. Siswa yang menghabiskan seluruh porsi memiliki tingkat paparan berbeda dengan siswa yang hanya mengonsumsi sebagian.
Kondisi tubuh setiap anak juga turut memengaruhi respons terhadap paparan bakteri. Faktor seperti kelelahan, kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami gejala.
Baca Juga: Penurunan Merah Putih Tutup HUT Ke-81 RI di Kubar, Generasi Muda Jadi Simbol Estafet Kepemimpinan
Respons saluran pencernaan setiap individu juga berbeda. Karena itu, sangat mungkin dalam satu kelompok penerima MBG terdapat siswa yang mengalami mual, muntah atau diare, sementara siswa lainnya tetap sehat.
“Kalau ada yang makan makanan yang sama tetapi tidak mengalami gejala, itu bukan berarti otomatis sumber makanannya bisa dikesampingkan. Kita tetap harus melihat keseluruhan bukti, baik dari laboratorium maupun epidemiologi,” tutur Toetoek.
E coli dapat ditemukan pada kotoran manusia dan hewan, air yang tercemar, serta bahan pangan yang mengalami kontaminasi.
Bakteri juga dapat berpindah ke makanan matang melalui tangan penjamah makanan, peralatan yang tidak bersih, air, maupun kontak dengan bahan mentah.
Karena itu, keberadaan E coli pada ayam suwir menjadi sinyal penting untuk mengevaluasi seluruh rantai pengolahan makanan MBG dari dapur SPPG 05 Bontang Selatan.
Pemeriksaan tidak hanya menyasar makanan yang telah dibagikan kepada siswa. Aspek higiene dan sanitasi dapur juga menjadi bagian penting dalam investigasi.
Dinkes dapat mengevaluasi bahan baku, kualitas air, proses memasak, suhu pengolahan, penyimpanan, kebersihan peralatan, higiene penjamah makanan, pengemasan hingga distribusi makanan menuju sekolah.
“Kalau hasil laboratorium sudah keluar dan dapat mengidentifikasi penyebab atau agen pencemar, pekerjaan Dinas Kesehatan belum selesai. Justru hasil laboratorium tersebut menjadi dasar untuk menentukan tindakan pengendalian,” terangnya.
Selanjutnya, hasil pemeriksaan laboratorium akan dicocokkan dengan temuan epidemiologi.
Diskes melihat pola gejala, waktu munculnya keluhan, makanan yang dikonsumsi, jumlah penerima manfaat yang mengalami sakit serta hasil pemeriksaan spesimen penderita apabila tersedia.
Baca Juga: Upacara HUT Ke-81 RI di Balikpapan Timur Diikuti 2.100 Peserta, Perkuat Persatuan Warga
Dengan demikian, temuan E coli pada ayam suwir menjadi petunjuk penting dalam mengungkap dugaan keracunan MBG di Bontang.
Namun, kepastian mengenai penyebab kejadian tetap memerlukan penggabungan antara hasil laboratorium, pemeriksaan dapur SPPG 05 Bontang Selatan dan penyelidikan epidemiologi di lapangan.
Kasus ini sekaligus menjadi evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, terutama untuk memastikan makanan yang didistribusikan kepada siswa memenuhi standar keamanan pangan, higienitas dan sanitasi sejak proses pengolahan hingga sampai ke tangan penerima manfaat. (rd)
Editor : Romdani.