Wolbachia Bontang Belum Merata, Bontang Barat 75 Persen, Selatan Baru 22 Persen

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 17:22 WIB
TERENDAH: Sebaran populasi nyamuk aedes aegypti berwolbachia di Bontang Selatan hanya 22 persen dari sampel yang diambil Diskes di monitoring terakhir. ADIEL KUNDHARA/KP
TERENDAH: Sebaran populasi nyamuk aedes aegypti berwolbachia di Bontang Selatan hanya 22 persen dari sampel yang diambil Diskes di monitoring terakhir. ADIEL KUNDHARA/KP

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Penyebaran nyamuk ber-Wolbachia di Bontang belum menunjukkan capaian yang seragam. Hasil monitoring terakhir mencatat proporsi sekitar 75 persen di Bontang Barat, sementara Bontang Utara berada di kisaran 38 persen dan Bontang Selatan sekitar 22 persen.

Namun, angka tersebut bukan gambaran seluruh populasi nyamuk dalam satu kecamatan. Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang mengambil sampel pada titik-titik tertentu untuk mengetahui perkembangan sebaran Wolbachia di lapangan.

Kepala Dinas Kesehatan Bontang drg Toetoek Pribadi Ekowati menjelaskan, setiap kecamatan memiliki sekitar 10–12 titik monitoring. Pada setiap titik, pengambilan sampel dilakukan beberapa kali di sekitar lokasi untuk memperoleh gambaran keberadaan nyamuk ber-Wolbachia.

Baca Juga: 19 Kasus Pencurian Dibongkar, 22 Tersangka Diciduk Polres Bontang

“Dari pengambilan sampel ini kan diambil beberapa sampel di titik kelurahan, kemudian dititipkan di kecamatan. Dari situ menggambarkan kira-kira kondisi di utara seperti itu, selatan seperti itu, dan barat juga seperti itu,” kata Toetoek.

Dengan metode tersebut, hasil monitoring perlu dipahami sebagai gambaran berdasarkan titik sampel, bukan persentase mutlak seluruh populasi nyamuk di wilayah kecamatan.

Sampel nyamuk yang diperoleh dari titik monitoring kemudian diperiksa di laboratorium untuk mengetahui apakah membawa Wolbachia. Pemeriksaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan persentase keberadaan Wolbachia yang terdeteksi pada sampel.

Data monitoring terakhir menunjukkan Bontang Barat memiliki persentase tertinggi, yakni sekitar 75 persen. Bontang Utara berada di angka 38 persen, sedangkan Bontang Selatan tercatat sekitar 22 persen.

Baca Juga: Citra Bawa Harapan Samarinda, Siap Buru Podium di O2SN Nasional 2026

Perbedaan tersebut menjadi bagian yang terus dipantau Diskes. Sebab, keberhasilan penyebaran Wolbachia sangat dipengaruhi kondisi lingkungan serta kemampuan nyamuk ber-Wolbachia berkembang dan bersaing dengan populasi nyamuk lokal.

“Memang sangat tergantung bagaimana kemudian dia bisa bersaing dengan nyamuk lokal yang ada,” ucapnya. Selain memantau keberadaan Wolbachia pada nyamuk, Diskes juga mencatat perkembangan pada ember yang digunakan dalam proses pelepasan nyamuk ber-Wolbachia.

Data yang dipaparkan menunjukkan rata-rata ember berhasil di Bontang Utara mencapai 72 persen, dengan jumlah pupa sekitar 109. Di Bontang Selatan, rata-rata ember berhasil 70 persen dengan jumlah pupa 108.

Sementara di Bontang Barat, rata-rata ember berhasil mencapai 77 persen, dengan jumlah pupa sekitar 118. Adapun titik PC PKT mencatat capaian tertinggi, yakni rata-rata ember berhasil 86 persen dengan jumlah pupa mencapai 198.

Angka tersebut menggambarkan keberhasilan wadah dalam menghasilkan pupa, sedangkan persentase Wolbachia merupakan hasil pemeriksaan terhadap sampel nyamuk. Keduanya merupakan indikator berbeda dalam monitoring program.

Program Wolbachia di Bontang mulai dirilis pada Oktober 2023. Setelah melalui tahap pembibitan dan pelepasan, monitoring telah dilakukan sebanyak enam kali untuk melihat perkembangan populasi nyamuk ber-Wolbachia.

Dalam prosesnya, sampel nyamuk dikumpulkan dari titik-titik monitoring yang telah ditentukan. Nyamuk kemudian diperiksa untuk mengetahui keberadaan Wolbachia.

Baca Juga: Bandara IKN Segera Dibuka untuk Umum dan Penerbangan Internasional, Berpotensi Layani Jamaah Haji

Diskes menilai hasil monitoring perlu dilihat secara berkala dan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Sebab, program ini tidak hanya bertujuan menghasilkan nyamuk ber-Wolbachia, tetapi juga memastikan keberadaannya dapat bertahan dan menyebar dalam populasi nyamuk lokal.

Toetoek menegaskan Wolbachia merupakan program tambahan dalam pengendalian demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, program tersebut tidak menggantikan pemberantasan sarang nyamuk.

“Program Wolbachia ini sebenarnya program tambahan. Program utama tetap pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus,” tutur dia.

Hingga Agustus 2026, Diskes Bontang mencatat 131 kasus DBD. Sebaran kasus tertinggi berada di Kelurahan Tanjung Laut Indah dengan 31 kasus dan Tanjung Laut sekitar 19 kasus.

Baca Juga: BGN Minta Guru Cicipi Menu MBG, Disdikbud Balikpapan: Sudah Berjalan dan Guru Diberi Jatah Makan

Kondisi tersebut menunjukkan pengendalian DBD tetap membutuhkan intervensi berlapis. Selain program Wolbachia, masyarakat harus aktif menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan Aedes aegypti.

Terlebih, Diskes masih menemukan potensi tempat penampungan air di sekitar rumah, termasuk kawasan rumah panggung. Botol bekas, wadah plastik dan barang lain yang mampu menampung air hujan dapat menjadi tempat berkembangnya nyamuk.

Karena itu, Toetoek meminta masyarakat tidak menganggap program Wolbachia sebagai alasan untuk mengendurkan kewaspadaan.

PSN melalui 3M Plus tetap menjadi langkah utama. Pemerintah melakukan monitoring dan intervensi, sementara masyarakat berperan menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Diskes berharap monitoring lanjutan dapat dilakukan untuk melihat perkembangan sebaran Wolbachia di seluruh wilayah Bontang. Evaluasi tersebut juga penting untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan dan menjadi bagian dari strategi pengendalian DBD dalam jangka panjang. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Wolbachia Bontang kasus DBD Bontang DBD Bontang 2026 sebaran Wolbachia Bontang nyamuk Wolbachia Bontang