Harga Cabai Rawit Meroket! IPH Bontang Berbalik Tajam dari Deflasi ke Inflasi 0,84 Persen

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:48 WIB
Komoditas cabai rawit merah di pasar tradisional Kota Bontang pemicu utama kenaikan IPH. (KALTIM POST)
Komoditas cabai rawit merah di pasar tradisional Kota Bontang pemicu utama kenaikan IPH. (KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID- Tren harga di Kota Bontang berbalik arah cukup tajam. Setelah sempat tertekan hingga mencatat deflasi 2,26 persen pada Juli 2026, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Bontang pada Agustus justru naik 0,84 persen. Cabai rawit menjadi pemicu terbesar kenaikan harga bulan lalu.

Berdasarkan data perkembangan inflasi Kota Bontang yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), IPH Bontang pada Agustus tercatat 0,84 persen secara month to month (m-to-m). Angka tersebut berbanding terbalik dengan kondisi Juli yang berada di level minus 2,26 persen. Artinya, terjadi perubahan sebesar 3,10 poin persentase dalam sebulan.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Kota Bontang Moch Arif Rochman mengatakan, pergerakan harga di daerah sangat berkaitan dengan pasokan dan distribusi komoditas. Terlebih, Bontang bukan daerah penghasil utama untuk sebagian besar kebutuhan pangan masyarakat.

Baca Juga: Coret 5 Cabor di Porprov Kaltim 2026, KONI Kaltim Tawarkan Opsi Laga Mandiri

“Sekitar 90 persen komoditas kita berasal dari luar kota maupun luar pulau. Jadi, stabilitas distribusi sangat menentukan,” kata Arif, Kamis (3/9/2026). Perubahan kondisi itu terlihat jelas dari komoditas penyumbang utama. Jika pada Juli penurunan harga cabai rawit, bawang merah, dan cabai merah menjadi penahan IPH, Agustus justru memperlihatkan komoditas serupa bergerak naik.

Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar kenaikan IPH Agustus dengan kontribusi 0,9614 persen. Berikutnya daging sapi sebesar 0,3771 persen, kemudian cabai merah 0,0909 persen.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan betapa cepat pergerakan harga pangan dapat mengubah posisi inflasi Bontang. Pada Juli, cabai rawit memberikan kontribusi penurunan sebesar 1,3058 persen. Sebulan kemudian, komoditas yang sama justru menjadi penyumbang kenaikan terbesar.

Bawang merah yang pada Juli berkontribusi terhadap penurunan sebesar 0,7234 persen tidak lagi masuk tiga besar penyumbang utama pada Agustus. Perubahan IPH Bontang tersebut terjadi ketika inflasi nasional dan Kalimantan Timur juga bergerak positif secara bulanan.

Baca Juga: KSOP Samarinda Buka Peluang Perusda Kaltim Kelola Jasa Pemanduan Kapal di Sungai Mahakam

Pada Agustus, inflasi nasional secara m-to-m tercatat 0,21 persen, naik dari posisi Juli yang minus 0,14 persen. Sementara inflasi Kalimantan Timur berada di angka 0,10 persen, melandai dibandingkan Juli sebesar 0,18 persen.

Dari sisi tahunan, inflasi nasional Agustus mencapai 3,19 persen, sedangkan Kalimantan Timur sebesar 3,88 persen. Angka Juli masing-masing berada di 2,88 persen dan 3,31 persen.

Arif menjelaskan, pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada harga di tingkat konsumen. Pemerintah juga harus memastikan rantai pasok tetap berjalan sehingga komoditas dari daerah produsen dapat masuk ke Bontang tanpa hambatan.

Menurut dia, kondisi harga juga dipengaruhi pola permintaan masyarakat. Periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), misalnya, biasanya meningkatkan kebutuhan masyarakat dan berpotensi memberikan tekanan terhadap harga. “Biasanya permintaan tertinggi itu terjadi saat hari besar keagamaan. Setelah momentumnya lewat, permintaan kembali menyesuaikan,” ucapnya.

Baca Juga: Relawan Bakti BUMN, Pupuk Kaltim Dorong Pemberdayaan Masyarakat Nagari Kumango

Meski IPH Bontang berbalik menjadi inflasi, pemerintah tetap memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas harga. Langkah tersebut meliputi monitoring harga sembako di pasar dan distributor, pengawasan distribusi BBM dan LPG 3 kilogram, Gerakan Pangan Murah, hingga Gerakan Menanam Cabai Rawit Pekarangan Rumah Tangga atau Gembira Pak RT.

Koordinasi dengan Bulog, distributor, dan Pertamina juga terus dilakukan untuk menjaga pasokan komoditas strategis. Kenaikan IPH Agustus menjadi sinyal bahwa stabilitas harga pangan di Bontang masih perlu dijaga. Terlebih, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah membuat harga komoditas lokal sangat dipengaruhi kondisi produksi dan distribusi di daerah asal. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
inflasi bontang harga cabai rawit Bontang IPH Kota Bontang Komoditas Pangan Bontang BPS bontang