DBD Tinggi di Gunung Telihan, Kelurahan Genjot Gotong Royong dan Fogging

Adhiel kundhara • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 17:28 WIB
PENANGANAN: Pengasapan area dilakukan jika terjadi penyebaran kasus DBD di lokasi yang berdekatan. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP
PENANGANAN: Pengasapan area dilakukan jika terjadi penyebaran kasus DBD di lokasi yang berdekatan. FOTO: ADIEL KUNDHARA/KP

BONTANG- Kelurahan Gunung Telihan menjadi salah satu wilayah dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi di Kota Bontang selama Agustus 2026. Kondisi tersebut mendorong kelurahan memperkuat upaya pencegahan melalui kebersihan lingkungan, gotong royong, hingga koordinasi dengan puskesmas untuk pelaksanaan fogging.

Lurah Gunung Telihan Meti Tandi mengatakan, kebersihan lingkungan menjadi salah satu kunci dalam menekan potensi penyebaran DBD. Karena itu, pihak kelurahan terus mendorong setiap RT agar aktif menjaga kebersihan wilayah masing-masing.

“Kita sarankan tiap RT menjaga kebersihan lingkungannya. Gotong royong juga terus dilakukan,” kata Meti usai menghadiri rapat paripurna tanggapan kepala daerah atas pandangan umum fraksi DPRD terkait nota keuangan Perubahan APBD 2026, Selasa (8/9/2026) di Pendopo Rujab Wali Kota.

Menurutnya, kegiatan kerja bakti di lingkungan RT sebenarnya sudah berjalan secara rutin. Pelaksanaannya menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah. Ada RT yang menjadwalkan kerja bakti sebulan sekali, bahkan ada pula yang melakukannya setiap dua pekan.

Kelurahan juga terus mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan upaya pengasapan atau fogging ketika kasus DBD ditemukan. Pencegahan dari lingkungan rumah dan permukiman dinilai tetap menjadi langkah utama.

Meti menyebut pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk penanganan wilayah yang ditemukan kasus DBD. Fogging dilakukan ketika ditemukan sedikitnya tiga kasus di suatu kawasan.

“Kalau sudah kasus tiga, baru kita melaksanakan fogging. Itu juga sudah kita laksanakan,” ucapnya.

Salah satu penanganan fogging dilakukan di sekitar SD Kreatif. Meti menyebut terdapat kasus yang berkaitan dengan warga RT 19 Gunung Telihan.

Namun, berdasarkan penelusuran di lapangan, sejumlah kasus yang ditemukan tidak selalu berasal dari penularan lokal. Pihak kelurahan bersama puskesmas sempat melakukan kunjungan dan menggali informasi dari keluarga penderita.

Meti mengatakan, salah satu penderita diketahui baru melakukan perjalanan atau berlibur ke luar wilayah Bontang. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang turut diperhatikan dalam penelusuran kasus DBD.

“Yang sekarang ada di RT 3 Telihan juga ternyata setelah kita tanyakan, dia habis liburan dari Palaran. Kita sempat kunjungan bersama puskesmas dan mendapat arahan dari orang tua bahwa anaknya habis liburan,” tutur dia.

Selain menggerakkan RT, Kelurahan Gunung Telihan juga mendorong keluarga meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, khususnya usia sekolah. Langkah tersebut penting mengingat kelompok usia anak cukup banyak ditemukan dalam kasus DBD di Bontang.

Meti menegaskan, gerakan menjaga kebersihan lingkungan sejalan dengan program Pemerintah Kota Bontang, yakni Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku (Gesit). Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Sudah kita imbau dari awal karena kita mendukung program Wali Kota Bontang, yaitu Gesit. Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku dan itu harus dilakukan di tiap warga,” terangnya.

Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok bagi masyarakat Kota Bontang. Selama Agustus 2026, jumlah kasus positif tercatat 15 kasus. Penanggung Jawab DBD Diskes Bontang Siti Rahimah mengatakan, kasus tersebut tersebar di delapan kelurahan.

“Terbanyak di Kelurahan Gunung Telihan dengan enam kasus,” kata Imah. Disusul Satimpo dan Tanjung Laut Indah dengan masing-masing dua kasus. Sementara Tanjung Laut terdapat satu kasus dengue dengan warning sign dan satu kasus positif DBD.

Sisanya satu kasus ditemukan di empat kelurahan, yakni Api-Api, Belimbing, Berebas Tengah, dan Bontang Baru. Berdasarkan klasifikasi usia, penderita DBD terbanyak berada pada rentang 5–14 tahun dengan enam kasus.

Kemudian terdapat lima kasus pada kelompok usia 1–4 tahun, dua kasus usia 15–44 tahun, dan dua kasus pada usia di atas 44 tahun. Total kasus sejak awal tahun mencapai 139 kasus dengan satu kasus berujung kematian.

Jumlah kasus pada Agustus 2026 memang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 19 kasus. Namun, warga tetap diminta tidak lengah.

Masyarakat perlu memperhatikan lingkungan sekitar, terutama tempat yang berpotensi menjadi penampungan air dan lokasi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Warga juga diimbau menutup tempat penampungan air, menggunakan bubuk abate pada bak mandi, serta rutin membersihkan berbagai wadah seperti vas bunga, tatakan dispenser, dan drum.

Fogging bukan satu-satunya solusi. Pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik tetap dapat berkembang biak. Karena itu, penerapan 3M—menguras, menutup, dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk—tetap menjadi langkah penting untuk memutus mata rantai DBD. (*)

Editor : Ismet Rifani
kasus DBD Bontang Kelurahan Gunung Telihan genjot fogging Lurah Gunung Telihan Meti Tandi