BONTANG- Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang. Terutama setelah capaian rata-rata TKA jenjang SD dan SMP menunjukkan sekolah negeri belum banyak mendominasi posisi teratas.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, atau akrab disapa Safa, mengatakan hasil TKA tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengotak-ngotakkan sekolah berdasarkan status negeri maupun swasta. Menurut dia, seluruh sekolah di bawah kewenangan Disdikbud merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah. Karena itu, pembenahan mutu pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh dan adil.
“Saya terus terang tidak pernah membicarakan sekolah negeri dan swasta. Paling tidak sekolah itu, anak-anak saya semua yang menjadi kewenangan dinas pendidikan,” kata Safa, Rabu (9/9/2026).
Safa menilai setiap sekolah memiliki keunggulan masing-masing. Ada sekolah yang menonjol di bidang akademik, seni, olahraga, hingga pengembangan keterampilan melalui kerja sama dengan dunia usaha.
Ia mencontohkan SMPN 7 Bontang yang memiliki keunggulan di bidang seni maupun akademik. Sementara SMPN 2 Bontang juga memiliki program kerja sama dengan perusahaan yang memberikan peluang bagi lulusannya.
“Artinya kita inginnya ada akademiknya, ada nonakademiknya. Ada yang berprestasi di seni, ada yang berprestasi di bidang olahraga. Silakan mereka bersaing secara positif,” ucapnya.
Untuk meningkatkan capaian TKA ke depan, Safa mendorong sekolah menerapkan pola pembelajaran yang lebih terarah. Materi dan soal yang berkaitan dengan pelajaran dapat dibahas secara intensif bersama siswa di sekolah.
Ia menilai pola tersebut tidak mengurangi esensi kurikulum. Sebaliknya, pembelajaran yang fokus di sekolah dapat membantu siswa memahami materi sekaligus mengasah kemampuan mengerjakan soal.
Safa bahkan menyebut pola seperti itu telah diterapkan di sejumlah sekolah di Pulau Jawa. Siswa diberikan materi, kemudian soal dibahas bersama guru dan teman-temannya di kelas.
“Jadi benar-benar fokus. Materi soal yang dibahas di sekolah, dibahas bersama oleh anak-anak. Dan anak-anak jangan dikasih PR terus, suruh istirahat. Besoknya begitu lagi dengan pelajaran yang berlainan,” tutur dia.
Menurut Safa, siswa membutuhkan kondisi belajar yang tetap segar. Pembelajaran yang terarah di sekolah dinilai lebih efektif dibandingkan membebani anak dengan pekerjaan rumah secara berlebihan.
Safa juga meminta sekolah tidak terjebak mencari alasan ketika hasil TKA belum sesuai harapan. Menurutnya, hasil asesmen harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki proses pembelajaran. “Kalau saya buka lagi ini kenapa kau tidak masuk 10 besar, pasti alasan saja. Buang-buang energi,” tegasnya.
Ia lebih memilih sekolah melihat keberhasilan sekolah lain sebagai pemacu untuk meningkatkan kualitas. “Kalau di sana bisa, masa di situ tidak bisa. Ayo, contoh yang baik. Jangan lagi membahas yang buruk-buruk, membuang-buang energi,” ujarnya.
Disdikbud, lanjut Safa, juga akan melihat berbagai aspek yang memengaruhi capaian siswa. Mulai dari kualitas dan kompetensi guru hingga pola pembelajaran yang diterapkan sekolah.
Ia menekankan prinsip keadilan tetap menjadi dasar. Sekolah negeri maupun swasta harus memperoleh perhatian sesuai kewenangan pemerintah daerah, tanpa mengabaikan karakter dan keunggulan masing-masing. Hingga kini, Disdikbud Bontang belum mengetahui pelaksanaan TKA selanjutnya untuk jenjang SD dan SMP. (*)
Editor : Ismet Rifani