KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Penanganan longsor di Jalan Soekarno-Hatta, Bontang, terus dikebut. Hingga Senin (21/9/2026), progres pekerjaan baru mencapai 34 persen dengan deviasi minus sekitar 8 persen dari rencana.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang Much Cholis Edi Prabowo, yang akrab disapa Bowo, mengatakan keterlambatan progres salah satunya berkaitan dengan kedatangan material utama yang digunakan dalam pekerjaan. “Progresnya 34 persen. Minus 8 persen,” kata Bowo saat dikonfirmasi, Senin (21/9/2026).
Menurut dia, material T-shape yang menjadi bagian penting dalam pekerjaan penanganan longsor tersebut kini sudah tiba di Bontang. Material tersebut tinggal menunggu proses pembongkaran di pelabuhan sebelum segera dikirim ke lokasi proyek. “T-shape sudah masuk Bontang, tunggu pembongkaran saja di pelabuhan,” ucapnya.
Baca Juga: Pengaduan Pinjol Ilegal Mendominasi, Satgas PASTI Hentikan 1.222 Entitas
Bowo menyebut seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk pekerjaan juga telah disiapkan. Begitu material T-shape terpasang, pihaknya akan mendorong kontraktor untuk mengejar ketertinggalan progres. “Begitu T-shape terpasang langsung ngejar, semua peralatan sudah siap,” tutur dia.
Dalam proyek Penanganan Longsoran Jalan Soekarno-Hatta ini, pemasangan T-shape menjadi salah satu pekerjaan dengan porsi terbesar. Bowo menjelaskan, material tersebut menjadi bagian penting dari konstruksi penanganan longsor. Karena itu, kedatangan material menjadi salah satu faktor yang menentukan percepatan pekerjaan di lapangan. “Terbesarnya pemasangan T-shape,” terangnya.
Proyek ini dibiayai melalui APBD Kota Bontang 2026. Berdasarkan papan informasi proyek, pekerjaan memiliki nilai kontrak sebesar Rp4.600.072.094 dengan nomor kontrak 000.3.3/334/DPUPR/2026. Kontrak ditandatangani pada 19 Mei 2026 dengan waktu pelaksanaan 210 hari kalender dan masa pemeliharaan 365 hari kalender.
Baca Juga: Rehabilitasi Pascakebakaran SMP 2 Samarinda Capai 95 Persen, Segera Bisa Digunakan
Pekerjaan dilaksanakan CV Putri Jaya Sakti, sementara konsultan pengawasnya adalah CV Biro Konsultan Teknik Estetica. Penanganan longsor Jalan Soekarno-Hatta juga belum mencakup seluruh titik longsoran yang sebelumnya dipetakan.
Bowo mengatakan, dari total panjang penanganan sekitar 100 meter, pekerjaan yang dapat ditangani melalui anggaran saat ini baru sekitar 60 meter. “Ini kan sebelumnya 100 meter, kita baru menangani 60 meter saja. Menyesuaikan anggaran,” ungkapnya.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 40 meter bagian longsoran yang belum tertangani dalam paket pekerjaan saat ini. Untuk lanjutan penanganan tersebut, Pemkot Bontang akan mengupayakan dukungan pendanaan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. “40 meternya nanti selanjutnya. Kita mohon dengan provinsi,” sebutnya.
Dia memastikan pekerjaan yang masuk dalam kontrak saat ini tetap dikejar hingga tuntas. Setelah material T-shape terpasang dan pekerjaan utama berjalan, kontraktor diharapkan mampu mempercepat progres sehingga ketertinggalan terhadap rencana dapat ditekan.
Akses ini sangat vital karena dilewati kendaraan bermuatan berat menuju kawasan industri. Selain itu, jalur ini digunakan ASN untuk menuju kantor di Bontang Lestari. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo