KALTIMPOST.ID, BONTANG - Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, mendapat tantangan khusus dari Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni. Wilayah dengan prevalensi stunting 7,8 persen itu ditargetkan mampu menuntaskan seluruh kasus yang tersisa dalam upaya mewujudkan zero stunting.
Target tersebut disampaikan Neni saat meluncurkan program Inovasi Cantik (Cegah dan Tangani Stunting) di Kelurahan Kanaan, Kamis (1/10/2026) pagi. Program ini menjadi langkah konkret Pemerintah Bontang untuk mempercepat penurunan angka stunting melalui intervensi langsung di tingkat kelurahan.
Neni menilai, jumlah kasus stunting di Kanaan yang relatif kecil seharusnya menjadi peluang untuk mempercepat penanganan. Berdasarkan data yang dipaparkan, terdapat 21 anak yang masuk kategori stunting di wilayah tersebut.
Baca Juga: Aksi Pencurian Siang Bolong Sasar Warung Makan Balikpapan Utara, Polisi Sisir CCTV
“Kanaan ini wilayahnya kecil, penduduknya fluktuatif antara 3.000 sampai 5.000 jiwa. Dengan sisa 21 kasus stunting, masa kita tidak bisa selesaikan? Target kita di sini harus zero stunting,” tegas Neni di hadapan para kader dan tamu undangan.
Optimisme itu juga didukung oleh kondisi prevalensi stunting Kanaan yang berada di bawah angka rata-rata kota. Berdasarkan hasil penimbangan serentak terhadap 9.884 balita se-Kota Bontang, tercatat 1.389 anak atau 14,05 persen masuk kategori stunting.
Angka tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkot Bontang. Penurunan prevalensi stunting membutuhkan kerja berkelanjutan, terutama dalam memastikan anak-anak mendapatkan pemantauan tumbuh kembang dan intervensi sesuai kebutuhan.
Melalui Inovasi Cantik, pemerintah menargetkan penanganan yang lebih terarah dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Program ini dirancang berjalan selama 56 hari kerja sebagai periode intervensi untuk mempercepat upaya penurunan kasus stunting di Kanaan.
Baca Juga: Brimob Polda Kaltim Sisir Kawasan Perumahan Balikpapan, Ini Tujuannya
Neni menegaskan, keberhasilan program tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan. Peran ketua RT, kader posyandu, aparatur kelurahan, hingga keluarga sangat menentukan dalam mendeteksi dan menangani persoalan tumbuh kembang anak. “Penanganan masalah kesehatan dan sosial ini harus dikeroyok bersama,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong pengawasan secara langsung terhadap kondisi warga. Pemantauan harus berbasis data by name, by address, sehingga anak yang membutuhkan perhatian dapat segera diketahui dan mendapatkan penanganan.
Dukungan pemerintah juga diperkuat melalui pemberian insentif bulanan kepada perangkat RT. Ketua RT menerima Rp2 juta, sedangkan bendahara, sekretaris, dan kader masing-masing memperoleh Rp1 juta.
Insentif tersebut diharapkan mendorong aparatur di tingkat lingkungan semakin aktif menjalankan fungsi sosial, termasuk membantu pemerintah memantau kondisi kesehatan masyarakat.
Neni turut mengapresiasi keterlibatan dunia usaha dalam mendukung program kesehatan masyarakat. Ia menyebut kolaborasi dengan perusahaan, termasuk PT Kaltim Parna Industri (KPI), menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan stunting di Bontang.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada perusahaan-perusahaan di Bontang, seperti PT KPI, yang sudah ikut turun tangan. Kolaborasi ini sangat dibutuhkan,” katanya.
Peluncuran Inovasi Cantik turut dihadiri Lurah Kanaan Hermin Della, perwakilan Kecamatan Bontang Barat, HRD & GA Director PT KPI Budi Dermawan, Kepala BNNK Bontang Lulyana Ramdhani, para ketua RT, kader posyandu, serta tamu undangan lainnya.
Baca Juga: Kejar Rasio Elektrifikasi 100 Persen, Bontang Usulkan 1.034 Sambungan Listrik Rumah
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai bentuk dukungan lintas sektor. Acara kemudian dilanjutkan dengan peninjauan pelatihan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) bagi kader posyandu.
Melalui program ini, Kanaan diharapkan menjadi salah satu wilayah yang mampu menunjukkan bahwa penanganan stunting dapat dipercepat melalui kolaborasi dan keterlibatan aktif masyarakat. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo