KALTIMPOST.ID- Penanganan stunting di Kota Bontang tak cukup hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengingatkan bahwa persoalan tumbuh kembang anak juga berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan, edukasi kesehatan reproduksi, hingga ketepatan diagnosis.
Hal tersebut disampaikan Neni saat meluncurkan program Inovasi Cantik (Cegah dan Tangani Stunting) di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, Kamis (1/10/2026) pagi. Menurut Neni, intervensi stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Perhatian terhadap 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tetap menjadi prioritas, tetapi upaya pencegahan perlu dimulai lebih awal, termasuk melalui edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja untuk mencegah kehamilan dini.
Ia juga meminta aparatur kelurahan lebih aktif mengawasi kebersihan lingkungan warga. Area peternakan menjadi salah satu perhatian karena berpotensi menjadi sumber penyakit infeksi kronis yang dapat mengganggu pertumbuhan anak.
Baca Juga: Kejar Elektrifikasi 100 Persen, Pemkot Bontang Usul Jaringan Listrik 20 Titik dan PLTS 2 Pulau
“Jangan hanya melihat persoalan stunting dari sisi makanan. Sanitasi lingkungan juga harus diperhatikan. Lingkungan yang tidak sehat bisa memicu penyakit infeksi kronis dan berdampak pada pertumbuhan anak,” kata Neni.
Selain sanitasi dan edukasi, Neni menyoroti pentingnya akurasi data dalam penetapan status stunting. Ia meminta jajaran kesehatan lebih cermat membedakan anak bertubuh pendek akibat faktor genetik dengan anak yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat masalah gizi kronis.
“Stunting itu pasti pendek, tapi tidak semua anak pendek itu stunting. Lihat juga genetik atau postur orang tuanya. Jangan sampai anak yang sehat dan berat badannya bagus justru salah dimasukkan ke dalam data stunting,” ucapnya.
Ketepatan diagnosis menjadi bagian penting dalam menentukan sasaran intervensi. Dengan data yang akurat, penanganan dapat difokuskan kepada anak yang benar-benar membutuhkan pendampingan dan layanan kesehatan.
Baca Juga: Sisa 21 Kasus, Neni Tantang Kanaan Zero Stunting dalam 56 Hari
Berdasarkan hasil penimbangan serentak terhadap 9.884 balita di Kota Bontang, sebanyak 1.389 anak atau 14,05 persen tercatat masuk kategori stunting. Pemkot Bontang menargetkan prevalensi tersebut dapat ditekan hingga satu digit atau di bawah 10 persen.
Untuk memperkuat pengawasan di tingkat masyarakat, pemerintah juga mendorong peran aktif perangkat RT dan kader posyandu. Ketua RT menerima insentif bulanan sebesar Rp2 juta, sedangkan bendahara, sekretaris, dan kader masing-masing memperoleh Rp1 juta.
Dukungan tersebut diharapkan membuat pemantauan warga berjalan lebih optimal. Aparatur RT didorong tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga proaktif mengidentifikasi persoalan kesehatan dan sosial di lingkungan masing-masing.
“Penanganan masalah kesehatan dan sosial ini harus dikeroyok bersama. Saya mengucapkan terima kasih kepada perusahaan-perusahaan di Bontang, seperti PT KPI, yang sudah ikut turun tangan. Kolaborasi ini sangat dibutuhkan,” tutur dia.
Baca Juga: Kejar Rasio Elektrifikasi 100 Persen, Bontang Usulkan 1.034 Sambungan Listrik Rumah
Menurut dia, keterlibatan dunia usaha menjadi bagian penting dalam memperkuat intervensi di lapangan. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan perusahaan diharapkan mampu memperluas jangkauan penanganan stunting hingga ke tingkat keluarga. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran Inovasi Cantik di Kelurahan Kanaan dengan masa intervensi selama 56 hari kerja.
Kegiatan yang turut dihadiri Lurah Kanaan Hermin Della, perwakilan Kecamatan Bontang Barat, HRD & GA Director PT Kaltim Parna Industri (KPI) Budi Dermawan, Kepala BNNK Bontang Lulyana Ramdhani, serta kader posyandu itu diakhiri dengan penandatanganan komitmen bersama.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan peninjauan pelatihan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) bagi kader posyandu. Pelatihan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas kader dalam mendukung pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Melalui pendekatan tersebut, Pemkot Bontang berupaya memastikan penurunan stunting tidak hanya terlihat dalam angka statistik, tetapi juga diikuti perbaikan kualitas kesehatan anak secara berkelanjutan. (riz)
Editor : Muhammad Rizki