KALTIMPOST.ID, BONTANG - Harga cabai rawit menjadi biang kenaikan tekanan harga pangan di Bontang. Komoditas yang kerap menghiasi meja makan warga itu memberi sumbangan terbesar terhadap kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) Bontang sepanjang September 2026.
Berdasarkan data BPS Bontang yang dirangkum Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bontang, IPH Bontang pada September 2026 naik 2,85 persen secara month to month (mtm). Angka tersebut menunjukkan pergerakan harga komoditas pangan di Bontang mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah Kota Bontang Moch Arif Rochman mengatakan, kenaikan IPH pada September terutama dipengaruhi sejumlah komoditas pangan strategis.
Baca Juga: Impor Nonmigas Kaltim Naik 4,33 Persen, Mesin Mekanis Jadi Penopang Utama
Cabai rawit menjadi penyumbang paling dominan dengan kontribusi sebesar 2,0489 persen. Setelah itu, cabai merah menyumbang 0,4713 persen, sedangkan beras berada di posisi berikutnya dengan kontribusi 0,3494 persen.
“Pergerakan harga komoditas pangan menjadi salah satu perhatian utama dalam pengendalian inflasi daerah. Khusus September, cabai rawit menjadi komoditas yang memberikan kontribusi paling besar terhadap kenaikan IPH Bontang,” kata Arif, Senin (5/10/2026).
Kondisi tersebut tidak terlepas dari ketersediaan pasokan dan perubahan harga dari daerah produsen. Ketika pasokan dari wilayah produksi terbatas, harga komoditas yang masuk ke Bontang ikut terdorong naik.
Secara regional, inflasi Kalimantan Timur pada September 2026 tercatat 0,18 persen secara m-to-m. Sementara secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Kaltim mencapai 3,98 persen.
Baca Juga: Sungai Mahakam Rawan Intrusi Air Laut, Dosen Unmul Kenalkan Literasi Sains ke Pelajar
Di tingkat nasional, inflasi September tercatat 0,30 persen m-to-m dan 3,28 persen yoy. Data tersebut memperlihatkan tekanan harga di Bontang pada September cukup kuat, khususnya dari kelompok komoditas pangan.
Arif menyebut Pemkot Bontang bersama TPID telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan. Pengawasan dilakukan mulai dari pasar hingga jalur distribusi komoditas.
Salah satunya melalui monitoring dan evaluasi (monev) sembako di pasar dan distributor. Pemerintah juga melakukan pemantauan terhadap distribusi BBM dan LPG 3 kilogram untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia.
Langkah lain yang disiapkan ialah Gerakan Tanam Cabai Rawit Pekarangan Rumah Tangga (GEMBIRA PAK RT). Program tersebut diarahkan untuk mendorong masyarakat ikut memperkuat ketersediaan cabai sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari daerah lain.
“Pengendalian tidak hanya dilakukan dari sisi harga, tetapi juga dari sisi pasokan. Karena itu, koordinasi dengan distributor, Bulog, Pertamina, dan pihak terkait terus dilakukan,” ucapnya.
TPID Bontang juga menjalankan Gerakan Pangan Murah dan Wartek-in, serta operasi pasar LPG 3 kilogram. Koordinasi dengan Bulog, distributor, dan Pertamina diperkuat untuk mengamankan stok dan memastikan distribusi berjalan lancar.
Langkah tersebut dinilai penting karena gejolak harga pangan memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Terlebih, cabai dan beras merupakan komoditas yang tingkat konsumsinya cukup tinggi di rumah tangga. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo