KALTIMPOST.ID, BONTANG - Peluang kerja ke luar negeri menjadi salah satu jalan yang disiapkan SMK 2 Bontang untuk meningkatkan daya saing lulusannya. Sekolah tersebut berencana membuka kelas khusus bagi siswa yang ingin bekerja di Jepang, sehingga mereka bisa menjalani pelatihan bahasa, budaya, dan keterampilan kerja sejak masih duduk di bangku sekolah.
Kepala SMK 2 Bontang Nurwahidah mengatakan, program ini merupakan upaya menindaklanjuti kebijakan pemerintah yang mendorong lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) agar mampu menembus pasar kerja internasional.
Menurut dia, peluang kerja di luar negeri perlu dimanfaatkan karena kesempatan kerja di daerah, termasuk di perusahaan besar seperti PT Badak NGL dan PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), memiliki keterbatasan daya serap.
Baca Juga: Kedubes AS Berkunjung ke Kaltim Post, Kenalkan Program FLEX Global Pertukaran Pelajar Setahun Penuh
“Harapan kami, anak-anak tidak hanya berpikir bekerja di Bontang. Peluang di luar sebenarnya banyak. Kami ingin membuka pola pikir mereka agar berani mencari pengalaman dan meningkatkan taraf ekonomi,” kata Nurwahidah, Rabu (14/10/2026).
Nurwahidah menjelaskan, gagasan tersebut berangkat dari keinginannya mencari jalur yang tepat untuk memfasilitasi siswa dan alumni SMK 2 Bontang agar bisa bekerja di luar negeri. Upaya itu mulai menemukan arah setelah dirinya mendapat pengalaman ketika ditugaskan sebagai pelaksana tugas (Plt) di SMK 1 Bontang.
Saat itu, dia mengetahui adanya bantuan program ketenagakerjaan bagi siswa SMK. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya menelusuri mekanisme penempatan tenaga kerja ke luar negeri, termasuk berkoordinasi dengan instansi terkait dan lembaga pelatihan kerja (LPK).
Dukungan juga datang dari Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Koperasi, serta DPRD Bontang melalui anggota dewan Irfan yang membidangi ketenagakerjaan. Sosialisasi kepada orang tua siswa pun telah dilakukan untuk menjelaskan peluang kerja ke luar negeri.
Baca Juga: Anggaran Bontang Menyusut, Pembangunan Gedung C RSUD Taman Husada Terancam?
Hasilnya, sejumlah orang tua menyatakan ketertarikan agar anak mereka mendapatkan kesempatan bekerja di Jepang. Untuk merealisasikan program tersebut, SMK 2 Bontang telah menjajaki sejumlah LPK di beberapa daerah, termasuk Makassar, Bogor, dan Bekasi.
Setelah melakukan peninjauan, sekolah bersama pihak terkait memilih LPK Ken Itiro di Bekasi sebagai mitra yang dinilai sesuai untuk menyiapkan calon pekerja.
Nurwahidah mengungkapkan, pada awal Oktober 2026 dirinya berkunjung langsung ke Bekasi untuk melihat fasilitas, lingkungan asrama, serta proses pembelajaran peserta pelatihan. Dalam kunjungan selama tiga hari itu, pembahasan kerja sama juga dilakukan dan telah mencapai kesepakatan awal.
Pelatihan yang diberikan tidak hanya berfokus pada kemampuan berbahasa Jepang. Peserta juga dibekali pemahaman budaya kerja, kompetensi yang dibutuhkan industri, serta latihan fisik untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan dan kondisi lingkungan di Jepang.
Saat ini, terdapat empat peserta awal yang diproyeksikan menjadi perintis program tersebut. Keberhasilan mereka diharapkan menjadi contoh sekaligus bahan evaluasi untuk memperluas kesempatan bagi siswa lainnya.
“Kalau empat orang ini berhasil berangkat, mudah-mudahan bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya. Kami ingin menunjukkan bahwa lulusan SMK juga punya peluang besar untuk bekerja di luar negeri,” ucapnya.
Meski demikian, biaya pelatihan bagi peserta awal masih ditanggung secara mandiri oleh orang tua. Sekolah berharap ke depan bisa mengakses bantuan pemerintah untuk membiayai siswa yang mengikuti program tersebut.
Baca Juga: Pertama di Kalimantan, ATM Emas Pegadaian Bikin Cetak Fisik Jadi Instan
Program jangka panjang SMK 2 Bontang dirancang menyasar siswa aktif kelas X dan XI yang benar-benar berminat bekerja di Jepang. Sekolah berencana berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur untuk membahas pembentukan kelas khusus tersebut.
Melalui skema ini, siswa yang telah masuk kelas khusus akan diarahkan menjalani praktik kerja lapangan (PKL) selama enam bulan di LPK di Bekasi. Dengan begitu, proses belajar bahasa, pengenalan budaya, dan pembentukan kompetensi kerja dapat dilakukan sebelum mereka menyelesaikan pendidikan.
Nurwahidah berharap skema tersebut membuat siswa memiliki kesiapan lebih matang ketika lulus. Dengan pelatihan yang dimulai sejak sekolah, lulusan tidak perlu lagi menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan diri sebelum mencari pekerjaan di luar negeri.
“Harapan kami, begitu lulus SMK, anak-anak sudah siap berangkat bekerja. Jadi, tidak perlu menganggur terlebih dahulu untuk mengikuti pelatihan dari awal,” tutur dia.
Baca Juga: Dari Perayaan HUT ke-61 Bankaltimtara, Usung Semangat Energi Baru bagi Nasabah
Selain kesiapan keterampilan, calon pekerja juga harus memperhatikan persyaratan fisik dan kesehatan yang ditetapkan sesuai pekerjaan serta negara tujuan. Karena itu, siswa didorong menjaga kesehatan sejak dini.
Sementara itu, untuk memperluas akses pembiayaan, Irfan disebut telah mewacanakan anggaran aspirasi sekitar Rp700 juta hingga Rp800 juta pada 2027 untuk mendukung biaya pelatihan. Program tersebut direncanakan terbuka bagi masyarakat dengan pendaftaran melalui Dinas Ketenagakerjaan. Namun, skema dan realisasi anggaran masih perlu dipastikan lebih lanjut.
Adapun biaya keberangkatan dapat melibatkan skema dana talangan melalui lembaga pembiayaan. Dalam skema yang dijelaskan kepada sekolah, biaya sekitar Rp45 juta dapat dibayarkan kembali melalui pemotongan gaji setelah peserta bekerja di Jepang. Ketentuan biaya, pembiayaan, dan pemotongan gaji tetap perlu diperiksa secara rinci sebelum calon peserta menyepakati program.
Nurwahidah menegaskan, program ini bukan sekadar mendorong anak muda meninggalkan daerah. Lebih dari itu, pengalaman dan penghasilan yang diperoleh di luar negeri diharapkan dapat menjadi modal untuk membangun usaha ketika mereka kembali ke Bontang.
“Tujuan bekerja ke luar negeri bukan hanya mencari uang, tetapi bagaimana nantinya bisa kembali ke kampung halaman dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo