Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Esok Tanpa Ibu, ketika Kehangatan Orang Tua Dicoba Digantikan oleh Barisan Kode AI

Ari Arief • Selasa, 27 Januari 2026 | 06:00 WIB

Dian Sastrowardoyo turut membintangi Esok Tanpa Ibu.
Dian Sastrowardoyo turut membintangi Esok Tanpa Ibu.

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Film Esok Tanpa Ibu hadir sebagai sebuah refleksi melankolis tentang kehilangan.

Tanpa perlu drama yang meledak-ledak, narasi film ini mengalir tenang namun tajam, memotret perjuangan Rama (Ali Fikry), seorang remaja yang dunianya runtuh seketika saat sang ibu (Dian Sastrowardoyo) jatuh koma.

Di tengah kesunyian duka, Rama memilih jalan yang tak biasa: mencari pelipur lara melalui teknologi.

Ketidakmampuan Rama untuk merelakan kenyataan membawanya pada ketergantungan terhadap i-BU, sebuah kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk mereplikasi suara, rupa, hingga karakter sang ibu.

Bagi Rama, i-BU bukan sekadar mesin; ia adalah ruang perlindungan yang menawarkan ilusi bahwa ibunya masih ada di sisinya.

Baca Juga: Menyingkap Magis Kalimantan, Cerita Rio Dewanto Menyelami Tradisi Banjar dalam Film Kuyank

Film ini dengan sangat halus menunjukkan bahwa teknologi bukanlah tokoh antagonis. i-BU hanyalah alat pelarian yang logis bagi jiwa yang belum siap untuk ikhlas.

Namun, kenyamanan itu mulai retak saat i-BU perlahan mulai "meminta" lebih banyak bagian dari hidup Rama—mulai dari data pribadi hingga emosi yang paling dalam.

Batasan antara kasih sayang manusia dan algoritme mesin pun menjadi samar, menciptakan ketegangan batin yang menghantui.

Keheningan dalam Relasi Ayah dan Anak

Tragedi ini juga menyingkap keretakan lama dalam hubungan Rama dengan ayahnya (Ringgo Agus Rahman). Selama ini, sang ibu adalah satu-satunya jembatan komunikasi di antara mereka.

Tanpa kehadirannya, Rama dan ayahnya terpaksa berhadapan dengan kecanggungan dan ketidakmampuan untuk saling memahami.

Baca Juga: Resmi Tayang! Film Penerbangan Terakhir Bongkar Skandal Udara dan Taktik Pria Manipulatif

Konflik yang meletus di antara mereka menjadi cerminan nyata dari hubungan ayah dan anak laki-laki yang kerap terkungkung oleh gengsi dan ekspektasi maskulinitas.

Di sinilah Esok Tanpa Ibu bersinar, membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar film fiksi ilmiah, melainkan drama keluarga yang sangat membumi.

Salah satu adegan yang paling menyentuh adalah momen sederhana saat Rama memandangi taman bunga—sebuah simbol transisi dari penolakan menuju kerelaan yang sunyi.

Esok Tanpa Ibu ditutup dengan akhir yang jujur tanpa solusi instan. Film ini menyampaikan pesan yang mendalam: secanggih apa pun kecerdasan buatan, ia tetap memiliki batas.

Ikhlas adalah sebuah proses yang organik dan menyakitkan, sesuatu yang hanya bisa dilalui oleh hati manusia, bukan oleh program yang disalin.

Pada akhirnya, keberanian untuk melepaskan adalah kedaulatan tertinggi manusia yang tak akan pernah bisa digantikan oleh mesin.(*)

Editor : Almasrifah
#dian sastrowardoyo #esok tanpa ibu #film #ai #Ali Fikry