Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Wastra Kriookng dan Anjat Diangkat ke Panggung Kota, Semakin Menggaungkan Nilai-Nilai Budaya

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 23 November 2025 | 13:47 WIB
BUDAYA: Lokakarya Wastra 2025, peserta belajar langsung teknik pembuatan wastra kriookng dan anyaman anjat rotan.
BUDAYA: Lokakarya Wastra 2025, peserta belajar langsung teknik pembuatan wastra kriookng dan anyaman anjat rotan.

 

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Kain warna-warni terhampar di meja masing-masing peserta. Di tengah kesunyian, hanya dipecah suara narasumber. Menjelaskan tentang warisan Dayak Tunjung, Kriookng.

Ada 50 peserta perwakilan SMA/SMK se-Samarinda yang fokus mendengarkan materi tentang kriookng, Sabtu (15/11). Wastra yang dimiliki suku Dayak Tunjung. Materi dibawakan Lydia Selvi, perajin kriookng generasi keempat di keluarganya.

 Baca Juga: Lapor Pak Andi Harun! Solong “Bebas Lokalisasi” Ternyata Belum Tuntas, Satpol PP Kaltim Temukan Kafe++

“Kriookng sudah ada sejak puluhan tahun lalu di Kutai Barat. Dalam bahasa kami, itu artinya melubangi, jadi kain itu dibuat pola ukiran, lalu dijahit dengan kain polos di bawahnya sehingga motif itu terlihat. Ada tujuh motif ukiran, naga, ketau (rok), belanai (guci), alaau (pagar), kelebet (perisai), kodook (kura-kura) dan cihiiq (tiang),” ujar Selvi.  

Jika selama ini wastra Kaltim yang terkenal adalah ulap doyo atau sarung Samarinda, padahal ada kriookng yang hadir dengan motif sarat makna dan warna-warna cerah.

 

Perempuan 56 tahun itu dipercaya jadi narasumber dalam Lokakarya Wastra 2025: Kriookng dan Kerajinan Anjat yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV Kaltimtara. Kegiatan yang berlangsung 15-16 November itu menjadi bagian dari Program Pemajuan Kebudayaan 2025.

Peserta tak hanya mendengar penjelasan teori, tetapi juga terjun langsung mempraktikkan pembuatan wastra dan anyaman tradisional (anjat rotan). Untuk materi anjat, dibawakan Ety, perajin asal Kutai Kartanegara. Sesi anjat memperkenalkan keterampilan anyaman yang menjadi identitas kuat masyarakat pedalaman.

 

Kepala BPKW XIV Kaltimtara Lestari menegaskan, agenda itu bukan sekadar ajang tampil, tetapi upaya konkret memperluas pengetahuan publik tentang warisan budaya suku Dayak.

 

“Kegiatan itu bertujuan memperkenalkan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kekayaan budaya Kalimantan Timur melalui karya wastra dan kerajinan tradisional,” ujarnya.

SUGUHAN: Rangkaian kegiatan workshop ditutup dengan peragaan busana Wastra Kriookng di Teras Samarinda, menampilkan kolaborasi seni para siswa sebagai dukungan pelestarian warisan budaya Dayak.
SUGUHAN: Rangkaian kegiatan workshop ditutup dengan peragaan busana Wastra Kriookng di Teras Samarinda, menampilkan kolaborasi seni para siswa sebagai dukungan pelestarian warisan budaya Dayak.

Minggu pekan lalu, kegiatan berlanjut di Teras Samarinda. Panggung besar telah disiapkan untuk menampilkan peragaan busana Wastra Kriookng. Para siswa dari SMA/SMK berkolaborasi menampilkan ragam ekspresi seni yang terhubung dengan wastra dan identitas lokal.

Lestari menyebut pertunjukan itu penting agar generasi muda terlibat langsung dalam pelestarian budaya. Dia berharap kriookng dan anjat tak hanya dikenali sebagai produk budaya, tetapi juga menjadi inspirasi kreatif dan ekonomi masyarakat Kaltim. (*)

Editor : Dwi Restu A
#wastra #kaltim #Dayak #samarinda #budaya