Ia menyebut transformasi putra semata wayangnya itu tampak begitu drastis—baik dari cara bergerak, sikap, maupun fisiknya.
Menurut Dewi, Gabriel yang dulu dikenal lembut dan pendiam, kini tampil jauh lebih tegas. Perubahan itu paling jelas terlihat ketika Gabriel melakukan demonstrasi fisik dan bela diri di hadapan keluarga usai pengumuman kelulusan.
“Saya sampai kaget. Geraknya sigap, badannya terbentuk, dan energinya beda sekali,” ujar Dewi di Jakarta Barat, akhir pekan lalu.
Dewi menuturkan bahwa perjalanan pendidikan Gabriel telah dipersiapkan sejak lama. Sebelum memasuki dunia militer, Gabriel menjalani pendidikan di sekolah berbasis Islam internasional.
Ia ingin putranya memiliki pondasi agama yang kuat sebelum memilih jalur kariernya sendiri.
Namun, pilihan untuk masuk AAL datang dari Gabriel. Dewi mengaku awalnya mengarahkan putranya ke Akademi Kepolisian. Lingkungan pertemanan yang kemudian mengubah arah. Sebagian besar sahabat dekat Gabriel memilih mendaftar ke Akademi Militer dan AAL, dan di situlah Gabriel merasa lebih cocok.
“Dia bilang, ‘Ma, aku lebih nyaman ikut jalur ini.’ Ya sudah, saya dukung penuh,” kata Dewi.
Sebagai orang tua tunggal, Dewi memilih tidak mendikte masa depan anaknya. Ia hanya memberi restu dan pendampingan. Ketika hasil seleksi AAL diumumkan dan Gabriel dinyatakan lolos, Dewi tak kuasa menahan tangis. “Perjuangannya panjang. Allah kasih jalan buat dia,” ucapnya.
Bagi Dewi, melihat transformasi itu membuatnya merasa tenang. Ia yakin putranya kini berada di jalur yang ia pilih sendiri—jalur yang membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat dan bertaggung jawab.
Editor : Uways Alqadrie