KALTIMPOST.ID - Clareesya tengah menjadi perhatian di media sosial setelah sebuah unggahan miliknya memicu perdebatan di kalangan warganet. Sorotan tersebut muncul setelah penyanyi yang tergabung dalam grup musik RoBoKop itu membagikan sejumlah foto usai tampil di festival musik The Sounds Project.
Dalam unggahan tersebut, Clareesya terlihat berpose dengan kedua tangan diangkat ke atas. Ia kemudian memberikan keterangan yang menyebut pose tersebut sebagai "gaya takbir". Penggunaan istilah itu yang kemudian menjadi titik perhatian warganet.
Unggahan Clareesya di Threads tersebut dinilai sebagian pengguna media sosial menimbulkan persoalan karena istilah yang digunakan berkaitan dengan praktik keagamaan. Perdebatan semakin meluas setelah unggahan tersebut dibagikan kembali oleh akun X @jakartalks.
Baca Juga: Sosok Jeff Bezos, Orang Terkaya Ketiga di Dunia yang Selangkah Lagi Jadi Pemilik Liverpool
Unggahan Clareesya Setelah Tampil di The Sounds Project
Clareesya diketahui membagikan beberapa foto setelah dirinya tampil bersama RoBoKop dalam festival musik The Sounds Project. Salah satu foto yang kemudian menjadi sorotan memperlihatkan dirinya mengangkat kedua tangan ke atas.
Pada keterangan foto tersebut, Clareesya menuliskan istilah "gaya takbir". Unggahan itu juga menandai akun The Sounds Project serta beberapa akun lainnya.
"Gaya takbir. Love you @thesoundsproject @ghanabanyubiru @renggalihlembahingtyas,"
Penggunaan kata tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan karena sebagian warganet menganggap istilah yang berkaitan dengan praktik keagamaan sebaiknya digunakan secara tepat dan tidak ditempatkan dalam konteks yang dapat menimbulkan persepsi berbeda.
Baca Juga: Mengenal Desil 1-10 yang Kini Dikaitkan dengan BBM Subsidi, Begini Cara Ceknya
Unggahan Clareesya Dibagikan Ulang dan Memicu Perdebatan
Perbincangan mengenai Clareesya semakin ramai setelah akun X @jakartalks membagikan ulang unggahan tersebut. Akun itu mempertanyakan identitas sang penyanyi sekaligus alasan unggahannya mendadak menjadi perhatian publik.
"Gaya takbir” katanya? Ini dia siapa lagi sih? Jujur gue ga kenal. Kalo emang penyanyi, dia yang nyanyi lagu apa? Barangkali gue pernah denger lagunya tapi gak tau orangnya,"
Unggahan tersebut kemudian mengundang berbagai komentar. Sejumlah warganet meminta Clareesya menjelaskan maksud penggunaan istilah "gaya takbir" agar tidak menimbulkan tafsir yang semakin luas.
Salah satu komentar warganet mempertanyakan perlunya penjelasan dari Clareesya mengenai unggahan tersebut.
"Perlu ditanya nih maksudnya apa, biar gak kemana mana persepsi orang-orang,"
Komentar lain kemudian menyinggung persoalan klarifikasi dan permintaan maaf ketika seseorang mendapat kritik di media sosial.
"Apakah semua masalah bisa selesai dengan klarifikasi dan minta maaf saja, mengapa sebagian orang gampang memaafkan dan di kemudian hari pasti tumbuh lagi karena tidak ada efek jera."
Sementara itu, terdapat pula komentar yang meminta Clareesya untuk tetap memperhatikan penggunaan istilah yang berkaitan dengan agama.
"Mau lu bertingkah kya gmnapun, berpakaian model apapun . tp tolong jgn pernah ngelecehin agama manapun,"
Siapa Clareesya dari RoBoKop?
Clareesya merupakan salah satu anggota RoBoKop atau Rombongan Bodonk Koplo, grup musik yang berbasis di Jakarta Selatan. Grup tersebut dikenal membawa konsep hipdut, yakni perpaduan antara hip-hop dan dangdut koplo elektronik.
Di RoBoKop, Clareesya tidak hanya berperan sebagai penampil. Ia juga disebut terlibat dalam proses produksi remix yang menjadi bagian dari aktivitas bermusik grup tersebut.
RoBoKop sendiri aktif memperkenalkan karya dan kegiatannya melalui media sosial. Kehadiran grup ini turut menunjukkan perkembangan musik dangdut yang kini banyak dipadukan dengan unsur hip-hop, musik elektronik, serta budaya digital.
Kontroversi Berawal dari Istilah “Gaya Takbir”
Perhatian terhadap Clareesya dalam kasus ini pada dasarnya berpusat pada penggunaan istilah "gaya takbir" dalam keterangan unggahan. Sebagian warganet mempermasalahkan pemilihan kata tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan konteks foto yang dibagikan.
Di sisi lain, hingga informasi dalam artikel ini ditulis, perdebatan di media sosial masih berupa tanggapan dan penilaian dari warganet. Maksud Clareesya menggunakan istilah "gaya takbir" sebagaimana caption tersebut juga belum dijelaskan lebih lanjut dalam materi yang menjadi dasar pemberitaan ini.
Kontroversi Clareesya pun memperlihatkan bagaimana sebuah caption singkat dapat memicu perhatian luas ketika dikaitkan dengan istilah yang dianggap sensitif oleh sebagian pengguna media sosial.***
Editor : Dwi PuspitariniSumber : viva