KALTIMPOST.ID, PENAJAM- Desa Wono Sari, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU) menggelar Festival Seribu Ketupat, Sabtu (26/4), digelar sekira pukul 10.00 Wita di Gedung Olahraga (GOR) Desa Wono Sari.
Kegiatan ini bertajuk Semangat Gotong-Royong Membangun Desa Wisata Wonosari yang Mantap (Mandiri, Tertata, Inovatif) Menuju IKN dan Indonesia Emas 2045.
Dalam rundown kegiatan Festival Seribu Ketupat yang diterima media ini kegiatan ini ditutup dengan penampilan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Budi Asmoro dengan menyajikan Lakon: Semar Mbangung Taman Maeoro Koco.
Kepala Desa Wono Sari, Kecamatan Sepaku, PPU, Kasiyono menuturkan, semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat Desa Wonosari, Kecamatan Sepaku, PPU, menjadi fondasi utama dalam pengembangan potensi wisata di wilayah mereka. Festival Seribu Ketupat kini menjadi agenda tahunan desa.
“Awal mulanya, kami menggelar tasyakuran pembukaan wisata Gua Tapak Raja pada 28 Mei 2022, bertepatan dengan 27 Syawal 1443 Hijriah,” tutur Kasiyono dengan antusias, Rabu (23/4).
“Acara tasyakuran Seribu Ketupat ini memiliki makna yang mendalam. Seribu melambangkan banyaknya partisipasi dan ketupat adalah wujud nyata swadaya masyarakat kami,” tambahnya.
Lebih lanjut, Kasiyono menjelaskan bahwa keberadaan wisata Gua Tapak Raja sepenuhnya merupakan hasil dari partisipasi aktif dan swadaya masyarakat Desa Wono Sari. “Ini adalah bukti nyata bahwa ketika masyarakat bersatu dan memiliki visi yang sama, hal yang luar biasa bisa terwujud,” ujarnya.
Tradisi tasyakuran dengan seribu ketupat ini kemudian diabadikan menjadi sebuah festival tahunan yang diperingati setiap 27 Syawal. “Ketupat sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia, terutama saat Lebaran Ketupat," imbuh Kasiyono.
"Melalui festival ini, kami tidak hanya merayakan hasil kerja keras dalam membangun wisata, tetapi juga melestarikan budaya dan mempererat tali silaturahmi."
Dalam perayaan Festival Seribu Ketupat, berbagai kegiatan seni dan budaya turut ditampilkan, seperti pentas tari-tarian tradisional dan pagelaran wayang kulit.
"Untuk tahun ini, kami sengaja tidak mengadakan acara di area Gua Tapak Raja," jelas Kasiyono.
"Ini karena kami memiliki visi yang lebih besar, yaitu mengembangkan seluruh Desa Wono Sari menjadi Desa Wisata. Oleh karena itu, acara festival kami pusatkan di GOR Desa, sebagai langkah awal mengenalkan potensi desa secara lebih luas," katanya.
Dengan adanya Festival Seribu Ketupat, lanjutnya, Desa Wono Sari tidak hanya merayakan keberhasilan membangun potensi wisata lokal, tetapi juga menegaskan komitmen untuk terus mengembangkan diri sebagai destinasi yang menarik, berlandaskan pada semangat
gotong-royong dan kekayaan budaya yang dimiliki.
Langkah ini tentu menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan potensi lokal dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Editor : Uways Alqadrie