Sebanyak 23 bibit ditanam di kawasan Pendopo Kopi. Langkah ini menjadi awal upaya menjadikan kopi Liberika sebagai salah satu ikon Nusantara.
Acara ini tak hanya soal menanam pohon, tapi juga mengenalkan kembali klasifikasi dan keunikan kopi lokal yang mulai dilupakan.
Dengan semangat Menanam Harapan, Merawat Nusantara, kegiatan ini jadi bukti tekad membangun masa depan pertanian daerah.
Gerakan Tanam Kopi Liberika
Pagi itu, petani dan Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, turun langsung ke lahan. Penanaman 23 bibit kopi Liberika jadi simbol awal mengenalkan klasifikasi kopi ini ke masyarakat luas.
Kopi Liberika termasuk dalam spesies Coffea liberica, berbeda dari Coffea arabica dan Coffea robusta yang lebih dikenal.
Klasifikasinya menempatkan Liberika sebagai kopi dengan biji lebih besar, biasanya 1,2-1,5 kali ukuran Arabika, dan memiliki kandungan kafein lebih rendah, sekitar 1,2-1,5% per 100 gram, dibandingkan Robusta yang mencapai 2,2-2,7%.
Rasa pahitnya lebih halus dengan aroma earthy yang khas, menjadikannya unik di kalangan pecinta kopi.
Keunggulan dan Klasifikasi Kopi Liberika
Klasifikasi botani menunjukkan Liberika berasal dari Liberia, Afrika Barat, dan diperkenalkan ke Indonesia pada abad ke-19. Di Sepaku, kopi ini diklasifikasikan sebagai varietas adaptif yang unggul di lahan gambut dan tanah berdrainase buruk, kondisi yang sulit bagi Arabika.
Tinggi pohonnya bisa mencapai 9-12 meter jika tak dipangkas, dengan daun lebar dan buah yang tumbuh berkelompok.
Kandungan antioksidannya lebih tinggi dibanding Robusta, menurut pengujian sederhana komunitas lokal, meski butuh studi lebih lanjut.
Proses panen dan pengolahan juga jadi bagian klasifikasi. Liberika dipanen setelah 4-5 tahun sejak tanam, dengan masa berbuah puncak di tahun ke-7 hingga 15.
Metode pengolahan basah atau kering memengaruhi profil rasanya—pengolahan basah memberi sentuhan asam ringan, sementara kering menonjolkan aroma tanah yang kuat. Ini jadi nilai jual yang ingin dikembangkan petani bersama Otorita IKN.
Dibutuhkan Kolaborasi untuk Menguatkan Klasifikasi
Otorita IKN menunjukkan komitmen dengan menurunkan enam pendamping untuk membantu petani. Komitmen ini mencakupi penanaman sampai pengolahan agar kualitas yang dihasilkan terjamin.
Kolaborasi ini juga melibatkan pelatihan soal pemilihan bibit berkualitas dan teknik pemangkasan untuk mengoptimalkan produksi. Harapannya, kopi Liberika Sepaku bisa jadi standar baru dalam klasifikasi kopi Indonesia, bersaing dengan varietas lain di pasar global.
Tentunya hal ini mendapat respon positif dari warga dan petani setempat, komunitas berharap Liberika tak cuma jadi komoditas lokal, tapi juga daya tarik wisata pertanian.
Otorita IKN pun berencana menjadikannya oleh-oleh khas IKN mulai tahun depan, mengangkat nilai klasifikasinya sebagai kopi khas Nusantara.
Kopi Liberika Diharapkan dapat Menjadi Salah Satu Ikon Kuliner IKN
Gerakan ini menegaskan potensi Liberika sebagai ikon kuliner berdasarkan klasifikasinya yang unik. Dengan pendampingan dan strategi tepat, Otorita IKN ingin menjadikan kopi ini simbol keberlanjutan dan identitas daerah.
Dukungan petani dan pemerintah diharapkan membawa Liberika ke panggung internasional, membuktikan bahwa klasifikasinya bukan sekadar nama, tapi warisan yang layak dijaga..
Editor : Uways Alqadrie