KALTIMPOST.ID,IKN-Kesiapan Ibu Kota Nusantara (IKN) kini tak lagi sekadar bicara soal kemajuan infrastruktur fisik. Jaminan ketersediaan pangan secara mandiri mulai menjadi fokus utama.
Langkah konkret diambil melalui koordinasi strategis antara Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Timur dengan Direktorat Ketahanan Pangan Otorita IKN (OIKN).
Dalam pertemuan yang digelar di Gedung Kemenko 3 baru-baru ini, kedua lembaga ini duduk bersama membedah peta jalan (road map) pertanian di wilayah ibu kota baru.
Fokusnya jelas yaitu memastikan IKN tidak ketergantungan pasokan dari luar daerah dalam jangka panjang.
Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, Setia Lenggono, menekankan bahwa sinkronisasi program antarlembaga menjadi kunci agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan di lapangan.
“Koordinasi ini sangat krusial. Kita ingin memastikan setiap langkah yang diambil itu selaras dan tepat sasaran. Ini bukan sekadar program, tapi jawaban atas tantangan ketahanan pangan di IKN ke depan,” kata Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, Setia Lenggono dikutip Minggu (19/4).
Salah satu poin krusial yang mencuat dalam diskusi tersebut adalah optimalisasi wilayah penyangga. Kawasan Samboja, misalnya, kini dibidik menjadi salah satu tulang punggung produksi pangan.
Potensi lahan di sana dinilai sangat mumpuni untuk dikembangkan sebagai sentra pertanian modern yang produktif.
Tak hanya soal lahan, urusan teknis seperti Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) hingga rencana program cetak sawah juga menjadi agenda prioritas.
Sebagai tindak lanjut, BRMP Kaltim berkomitmen menerjunkan tim untuk memperkuat pendampingan bagi para penyuluh dan petani di wilayah IKN.
Baca Juga: Gaji ke-13 2026 Cair Mulai Juni, Bakal Dibayar Full atau Dipotong? Ini Kata Menkeu
Kepala BRMP Kaltim, Ahmad Subhan, menggarisbawahi bahwa teknologi dan kualitas benih adalah fondasi dari rencana besar ini. Menurutnya, mustahil produktivitas bisa digenjot tanpa adanya dukungan perbenihan yang mumpuni.
“Kunci keberlanjutan usaha tani ini ada pada benih unggul. Kami menempatkan dukungan perbenihan sebagai prioritas utama, khususnya untuk wilayah-wilayah yang kita siapkan sebagai penyangga pangan IKN,” kata Ahmad Subhan.
Melalui kolaborasi ini, pembangunan sektor pertanian di kawasan IKN diharapkan bisa menjadi etalase pertanian modern di Indonesia—sebuah model pertanian yang tidak hanya efisien dan adaptif terhadap teknologi, tetapi juga mampu menghidupi warga ibu kota secara mandiri.(*)
Editor : Dwi Puspitarini