KALTIMPOST.ID, IKN-Wajah modern Ibu Kota Nusantara (IKN) bersalin rupa dengan sentuhan tradisi pada Minggu (19/4) sore.
Bertempat di Plaza Seremoni IKN, sebanyak 75 perempuan dari berbagai latar belakang—mulai dari ASN, tenaga non-ASN, hingga warga lokal—berkumpul merayakan semangat Kartini dengan cara yang unik: memadukan olahraga Mat Pilates dan balutan kebaya.
Kegiatan bertajuk “Sebelum Gelap, Terbitlah Mat Pilates dan Matcha: Kartini Berdaya, Sehat Jiwa dan Raga” ini diinisiasi oleh komunitas HealingdiIKN.
Uniknya, meski melakukan gerakan pilates yang membutuhkan fleksibilitas tinggi, para peserta tetap tampil anggun mengenakan kain nusantara dan kebaya.
Inisiator Komunitas HealingdiIKN, Adinda Alya, mengungkapkan bahwa konsep ini merupakan simbol keberdayaan perempuan masa kini. Menurutnya, sosok "Kartini" hari ini adalah mereka yang berani memprioritaskan kesehatan mental dan fisik di tengah kesibukan.
“Kartini hari ini bukan hanya yang berjuang dengan pena. Mereka adalah perempuan yang memilih untuk sehat, bahagia, dan berani menyatakan bahwa dirinya berhak untuk healing. Kami ingin merayakan semangat itu dengan cara yang relevan bagi penghuni IKN,” kata Adinda Alya melalui keterangan tertulis Minggu (26/4).
Baca Juga: KPU Se-Indonesia "Serbu" IKN, Siapkan Dapil Khusus untuk Pemilu 2029
Suasana senja di IKN kian hangat saat memasuki sesi Matcha Workshop. Menariknya, matcha yang disajikan merupakan produk UMKM lokal asal Sepaku.
Hal ini menjadi bukti komitmen komunitas dalam menggandeng potensi ekonomi masyarakat sekitar seiring pertumbuhan infrastruktur ibu kota.
Salah satu peserta mengaku sangat antusias dengan kegiatan ini. Baginya, olahraga di bawah langit senja IKN menjadi oase di tengah rutinitas pekerjaan yang padat sepanjang pekan.
"Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan. Menikmati sunset Nusantara sambil bergerak bersama dan mencicipi matcha lokal adalah cara terbaik merayakan Hari Kartini,” tuturnya.
Momen ini juga menjadi tonggak sejarah bagi HealingdiIKN yang genap berusia satu tahun. Selama setahun terakhir, komunitas ini aktif menjadi penggerak ruang sosial di IKN, mulai dari eksplorasi wisata alam, upskilling, hingga aksi kemanusiaan.
Adinda menekankan bahwa membangun IKN bukan sekadar soal gedung dan teknologi, melainkan membangun fondasi sosial dan keseimbangan hidup (living well).
“IKN yang hidup adalah yang masyarakatnya saling terhubung. Melalui tagline ‘Bukan Healing Biasa’, kami ingin memastikan warga IKN memiliki ruang akhir pekan yang bermakna dan berkelanjutan,” katanya. (*)
Editor : Almasrifah