KALTIMPOST.ID, - Langkah kaki para petinggi yudikatif Tanah Air tertuju pada satu titik koordinat masa depan Indonesia: Ibu Kota Nusantara (IKN).
Suasana di Plaza Yudikatif mendadak hangat saat Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Kalimantan Timur, Dr. Albertina Ho, menginjakkan kaki di kawasan yang kini tengah menjadi buah bibir dunia tersebut, baru-baru ini.
Bukan sekadar kunjungan kerja biasa, kehadiran sosok srikandi hukum yang dikenal tegas ini membawa pesan kekaguman yang mendalam.
Didampingi jajaran Hakim Tinggi dari Kaltim, Bangka Belitung, hingga Daerah Khusus Jakarta, Albertina disambut langsung oleh "panglima" pembangunan IKN, Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono.
"Satu hal yang sangat luar biasa yang kami saksikan di sini. Betul-betul di luar ekspektasi kami. Tidak bisa kami bayangkan IKN ini sebelumnya," ungkap Albertina dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan.
Matanya melihat deretan gedung yang mulai berdiri kokoh, berpadu apik dengan vegetasi hijau yang menyelimuti sekelilingnya.
Baginya, IKN bukan sekadar proyek mercusuar bangunan beton. Ada ruh keseimbangan alam yang tetap terjaga di sana.
"Baik dari bangunannya maupun lingkungannya, ternyata memang betul-betul dijaga," tambahnya.
Momentum kunjungan ini pun kian bermakna saat para punggawa hukum tersebut menanggalkan sejenak toga mereka untuk memegang sekop.
Di bawah arahan Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, mereka menanam bibit pohon sebagai simbol "investasi" oksigen bagi masa depan.
Myrna, dengan gaya bicaranya yang santun namun visioner, menitipkan pesan mendalam sebelum para hakim tersebut nantinya resmi berkantor di pusat pemerintahan baru ini.
"Mohon izin sebelum bapak dan ibu berkantor di sini, kami izin untuk hijaukan dulu kawasan ini. Penanaman ini adalah komitmen kita untuk keadilan terhadap lingkungan. Itulah spirit pembangunan Nusantara," ujarnya disambut anggukan setuju para hadirin.
Tiga jenis pohon—bungur, nyamplung, dan tanjung—kini telah berakar di Plaza Yudikatif. Pohon-pohon ini bukan sekadar peneduh, melainkan saksi bisu dimulainya sinergi antar-instansi untuk memastikan bahwa di bawah langit Nusantara, hukum dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
Sebuah jejak hijau telah ditorehkan. Dari balik kaca jendela ruang kerja para hakim nanti, pemandangan pohon yang mereka tanam hari ini akan menjadi pengingat: bahwa keadilan tak hanya milik manusia, tapi juga milik semesta.
Editor : Hernawati