Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari IKN Gaungkan Indonesia Asri, Korve Massal hingga Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Masuk Agenda Lingkungan Otorita

Muhammad Ridhuan • Minggu, 7 Juni 2026 | 19:13 WIB
PERINGATAN: Kerja bakti (korve) bersih lingkungan untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang berlangsung di Masjid Negara IKN pada Sabtu (6/6).
PERINGATAN: Kerja bakti (korve) bersih lingkungan untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang berlangsung di Masjid Negara IKN pada Sabtu (6/6).

NUSANTARA – Puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) 2026 sekaligus peluncuran Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) dengan tema “Saatnya Beraksi untuk Iklim” digelar secara nasional, Sabtu (6/6). Berpusat di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur, Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat memimpin langsung acara peringatan tersebut.

Di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menegaskan bahwa pengelolaan sampah dan penanaman pohon harus menjadi budaya sekaligus ideologi baru masyarakat. Hal itu disampaikan Basuki saat mengikuti rangkaian peringatan HLH yang terhubung secara daring dengan Menteri Lingkungan Hidup.

Baca Juga: PLTA 300 MW di Mahulu Peluang Aliri Listrik IKN, Otorita Sebut Jadi Ajang Kurangi Ketergantungan Energi Fosil

Kepada wartawan, Basuki menyebut peringatan HLH di IKN tidak hanya dilakukan dalam satu hari. Berbagai kegiatan telah dan akan terus digelar sepanjang Juni, mulai dari penanaman pohon, kerja bakti lingkungan, aksi bersih pantai, penanaman mangrove hingga rehabilitasi lahan bekas tambang.

“Jangan bangga kalau dapat sampah satu ton saat korve. Itu berarti lingkungan kita masih jorok. Tujuannya justru bagaimana sampah semakin sedikit karena masyarakat sudah terbiasa menjaga kebersihan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pengelolaan lingkungan yang baik harus dimulai dari rumah tangga. Masyarakat didorong membiasakan pemilahan sampah, mengurangi timbulan sampah, serta mengolah sampah organik secara mandiri.

Basuki menilai budaya tersebut sebenarnya bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Menurutnya, konsep zero waste telah lama dikenal melalui berbagai kearifan lokal.

“Dulu orang tua kita sudah menerapkan itu. Sampah organik diolah sendiri, yang keluar rumah hampir tidak ada. Penanaman pohon juga menjadi tradisi. Sekarang kita hanya menghidupkan kembali budaya itu,” ujarnya.

Baca Juga: Proyek Rel Rp 25 Triliun Dimulai dari Kaltara, Target Tersambung hingga IKN

Selain kebersihan, OIKN juga terus mendorong gerakan penghijauan. Penanaman pohon bahkan menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap dua pekan.

“Kalau ada anak lahir, tanam pohon. Ulang tahun, tanam pohon. Momentum apa pun bisa menjadi kesempatan menanam pohon. Karena jumlah penduduk terus bertambah dan kebutuhan ruang semakin besar,” katanya.

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN Myrna Safitri menambahkan, edukasi pengelolaan sampah kini mulai diperluas ke luar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Selama ini OIKN fokus membangun sistem pengelolaan lingkungan yang ketat di KIPP sebagai percontohan. Namun mulai tahun ini, edukasi kepada masyarakat sekitar terus diperkuat.

Menurut Myrna, persoalan sampah dapat berkurang hingga 50 persen apabila rumah tangga mampu mengolah sampah organik secara mandiri. “Karena itu kami terus mengimbau masyarakat melakukan pemilahan sampah dan pengolahan sampah organik dari rumah masing-masing,” ujarnya.

Selain itu, OIKN juga membagikan bibit tanaman buah kepada kelompok masyarakat agar ditanam di pekarangan rumah. “Kami berharap halaman rumah tidak hanya hijau, tetapi juga menjadi sumber pangan keluarga yang sehat,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Myrna juga menjelaskan rencana rehabilitasi lahan bekas tambang di kawasan IKN. Menurutnya, area bekas tambang yang berada di luar wilayah konsesi atau tidak lagi diketahui penanggung jawabnya akan menjadi prioritas revegetasi.

Proses rehabilitasi dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, OIKN menanam jenis tanaman cepat tumbuh atau fast growing untuk membangun tutupan vegetasi. Setelah ekosistem terbentuk, penanaman dilanjutkan dengan jenis pohon endemik Kalimantan.

“Tanaman endemik membutuhkan naungan. Karena itu tidak bisa langsung ditanam di lahan terbuka. Ada tahapan yang harus dilakukan agar tingkat keberhasilannya tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, untuk mendukung pengelolaan sampah di IKN, OIKN telah mengoperasikan fasilitas pengolahan sampah terpadu (DPST) berkapasitas 70 ton per hari. Saat ini volume sampah yang dihasilkan kawasan KIPP baru sekitar tujuh ton per hari sehingga kapasitas pengolahan masih sangat mencukupi.

“Karena itu kami bahkan membuka peluang kerja sama dengan daerah sekitar seperti Kutai Kartanegara jika mengalami kesulitan mengelola sampah,” ujar Basuki.

OIKN berharap gerakan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, melainkan menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat. “Lingkungan yang bersih dan hijau harus menjadi gaya hidup. Kalau dilakukan bersama-sama dan dengan gembira, maka gerakan ini akan berkelanjutan,” pungkas Basuki. (rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka #IKN #menteri lingkungan hidup #Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono #hari lingkungan hidup