KKN Tematik Berdampak KUC-BSN Cetak Sejarah di IKN, Mahasiswa Didorong Jadi Problem Solver Pembangun

Nuron Setya Wijaya • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 18:43 WIB
Basuki Hadimuljono dan Isradi Zainal bersama KKN Tematik Berdampak KUC-BSN di IKN. (FOTO NURON/KP)
Basuki Hadimuljono dan Isradi Zainal bersama KKN Tematik Berdampak KUC-BSN di IKN. (FOTO NURON/KP)

KALTIMPOST.ID-Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tidak hanya memerlukan infrastruktur modern, tetapi juga gagasan, inovasi, dan keterlibatan sumber daya manusia yang mampu menjawab berbagai persoalan di lapangan.

Peran itu mulai diambil kalangan perguruan tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Berdampak Kalimantan University Consortium (KUC)–Borneo Series Network (BSN), yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di kawasan IKN.

Momentum penarikan mahasiswa KKN di IKN, Rabu (5/8), menjadi penanda berakhirnya rangkaian pengabdian yang tidak sekadar berorientasi pada kegiatan akademik.

Acara tersebut dihadiri Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono bersama pimpinan perguruan tinggi anggota KUC, sekaligus menjadi simbol komitmen dunia kampus dalam mendukung pembangunan ibu kota baru melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Koordinator KUC sekaligus Rektor Universitas Balikpapan (Uniba) Isradi Zainal mengatakan pelaksanaan KKN tersebut menjadi tonggak baru bagi perguruan tinggi di Kalimantan. 

Berbeda dengan KKN konvensional, mahasiswa diterjunkan dengan pendekatan berbasis keilmuan untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus menawarkan solusi yang dapat diterapkan di kawasan IKN maupun wilayah penyangganya.

“Kalau melihat sejarahnya, KKN ini adalah KKN yang bersejarah. Mahasiswa menjadi bagian dari perjalanan pembangunan IKN. Mereka tidak hanya datang belajar, tetapi ikut memberi kontribusi sesuai bidang ilmunya,” ujarnya.

Menurut Isradi, istilah berdampak dipilih karena hasil pengabdian mahasiswa diharapkan tidak berhenti setelah program selesai.

Data lapangan, pengalaman, hingga gagasan yang diperoleh selama KKN diharapkan berkembang menjadi penelitian, inovasi, maupun program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan, pembangunan IKN menghadirkan tantangan yang kompleks. Selain pembangunan fisik, masih terdapat persoalan di bidang sosial, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.

Karena itu, mahasiswa didorong bekerja secara kolaboratif lintas disiplin ilmu agar mampu memberikan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Mahasiswa bekerja secara berkelompok dan berkolaborasi lintas disiplin ilmu. Mereka hadir bukan hanya untuk memenuhi kewajiban akademik, tetapi menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat,” katanya.

Isradi mengaku bangga terhadap kemampuan para mahasiswa selama menjalankan program tersebut.

Menurutnya, mahasiswa mampu menunjukkan kemampuan komunikasi, etika, rasa percaya diri, serta daya analisis yang baik saat berdialog dengan berbagai pemangku kepentingan di IKN.

Pada pelaksanaan perdana, jumlah peserta masih dibatasi sebanyak 34 mahasiswa karena menyesuaikan standar operasional dan kapasitas kegiatan di kawasan IKN.

Meski demikian, keterbatasan tersebut menjadi pijakan untuk memperluas pelaksanaan KKN pada tahun-tahun berikutnya.

Lebih lanjut, Isradi menjelaskan KUC tidak hanya membangun kolaborasi antarperguruan tinggi di Indonesia, tetapi juga bersama Borneo Series Network (BSN) yang melibatkan kampus-kampus di Brunei Darussalam, Sabah, dan Sarawak.

Kerja sama tersebut akan diperluas melalui program penelitian, magang, inovasi, dan pengabdian masyarakat untuk menjawab berbagai persoalan strategis di kawasan IKN.

Beberapa isu yang telah dipetakan antara lain penanganan stunting, pengelolaan sampah, pemanfaatan embung, pengembangan desa penyangga, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk di Desa Bumi Harapan.

Menurut Isradi, pembangunan IKN harus memberikan dampak yang merata sehingga desa-desa penyangga ikut berkembang bersama kawasan inti ibu kota.

“Kami tidak ingin hanya kawasan inti IKN yang berkembang. Desa-desa penyangga juga harus maju sehingga benar-benar menjadi bagian dari ibu kota negara,” tegasnya.

Ia menambahkan, KUC berkomitmen menjadi mitra strategis Otorita IKN dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.

Melalui KKN Tematik Berdampak, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga melahirkan inovasi yang mampu mendukung pembangunan Nusantara secara berkelanjutan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (rd)

Editor : Romdani.
KKN Tematik Berbasis SDGS penajam paser utara ibu kota nusantara Mahasiswa KKN Kutai Barat