KALTIMPOST.ID, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan wacana segar terkait industri teknologi global. Orang nomor satu di Negeri Paman Sam tersebut mengusulkan perombakan istilah Artificial Intelligence (AI) yang dinilainya sudah tidak relevan dan terlalu kaku.
Melalui unggahan di platform media sosial X dan Truth Social, Trump menyodorkan tiga nama alternatif untuk menggantikan sebutan kecerdasan buatan tersebut.
"Banyak orang merasa istilah 'Artificial Intelligence' itu kurang akurat dan terdengar kaku. Sebutan yang jauh lebih elegan dan pas untuk fenomena baru ini adalah Superior Intelligence (SI), Extreme Intelligence (EI), Supreme Intelligence (SI)," tulis Trump.
Tak berhenti pada gagasan, Trump lantas mengeliminasi opsi Supreme Intelligence dan menggelar jajak pendapat (polling) publik di platform Truth Social. Hingga Senin (21/9), nama Extreme Intelligence memimpin perolehan suara terbanyak dengan angka 50,2 persen.
"Ini adalah survei, dan saya akan sangat menghargai jika semua orang ikut memberikan suara! Manakah nama terbaik untuk 'Revolusi' yang terus berkembang ini?" ujanya.
Inisiatif perombakan nama ini mempertegas sikap politik Trump yang mendukung penuh akselerasi adopsi teknologi digital. Ia bahkan menegaskan tidak akan membatasi atau menghambat laju perkembangan AI di AS.
Namun, langkah agresif Trump berbanding terbalik dengan kekhawatiran para petinggi industri dan regulator. CEO Anthropic Dario Amodei bersama CEO OpenAI Sam Altman justru menyerukan agar pengembangan AI diperlambat demi faktor keamanan.
Gubernur California Gavin Newsom pun mengambil langkah tegas dengan membentuk tim khusus keselamatan AI menyusul maraknya potensi risiko keamanan, salah satunya insiden laporan militer palsu berbasis AI yang sempat memicu ketegangan diplomatik antara AS dan Tiongkok.
Editor : Ilmidza